(Rick Joyner, Prepared for the Times)-----Home---Artikel
BAGIAN – 11
Tentu saja penyebutan jabatan di dalam pelayanan kami telah membantu gereja mengerti tentang pelayanan apa yang kami lakukan. Tetapi pemakaian jabatan yang berlebihan dan penggunaan jabatan spiritual yang keliru telah membuat mata uang spiritual kita terdevaluasi. Sekarang ini di dalam pelayanan sulit untuk tidak menjumpai seseorang yang tidak menyebut dirinya nabi, rasul, atau bishop. Hal ini membuat saya lebih memberi rasa hormat kepada mereka yang menyebut diri “gembala” karena mereka begitu rendah hati.
Namun, kita memang berada pada waktu di mana pelayanan-pelayanan tersebut sedang dipulihkan dalam gereja, dan kita akan kehilangan tujuan yang ditetapkan Tuhan jika tidak bertemu dengan mereka. Kita harus mengenali dan menerima mereka. Jika kita menerima seorang nabi dalam nama nabi, maka kita akan menerima upah seorang nabi. Tetapi jika kita menerima seorang nabi hanya sebagai guru, maka kita akan menerima pengajaran. Hal yang sama berlaku bagi semua pelayanan. Jika kita menerima seorang rasul hanya sebagai guru, kita hanya akan menerima kepemimpinan. Karena itu para pemimpin gereja mempunyai tanggungjawab untuk “tahu siapa yang melayani di antara kamu”.
Sekali lagi, ada tempat, bahkan kebutuhan untuk penggunaan jabatan pelayanan seperti yang dilakukan rasul Paulus yang mempertahankan kerasulannya. Tetapi dia melakukan hal itu untuk jemaat, bukan kepentingan dirinya sendiri. Dalam mempertahankan jabatan itu kita tidak melihat adanya promosi diri, tetapi justru roh kebapaan yang memberi perintah kepada anak-anaknya. Ada anugrah, wibawa, dan kebijaksanaan yang merupakan ciri seorang utusan yang benar yang telah diutus oleh sang Raja.
Demikian juga pewahyuan, mimpi atau penglihatan yang datang dari Dia, memiliki ciri yang sama. Pada jaman kita ini Tuhan menuntun kita lebih dengan cara memanggil, bukan memerintah. Dia mempunyai otoritas untuk melakukan apapun yang Dia kehendaki, tetapi seperti kita lihat dalam kitab Wahyu 3:20, Dia berdiri di luar gerejaNya dan mengetuk untuk melihat apakah ada yang mendengar dan membuka pintu bagiNya. Alasannya adalah karena kita berada pada suatu masa di mana Dia mencari mereka yang mau bersama-sama menjadi ahli waris dengan Dia, yaitu mereka yang taat karena memang mencintai kebenaran bukan karena perintah. Oleh karena itu, kita tidak boleh merasa tertekan untuk bertindak apabila menerima pewahyuan profetis, tetapi terpanggil. Kita telah mengalami saat-saat di mana kita menerima peringatan tentang sesuatu yang memerlukan tindakan. Tetapi itupun harus datang dengan wibawa dan anugrah Tuhan, menghimbau untuk suatu respon, bukan menekan, seperti dikatakan dalam Yakobus 3.
Saya telah belajar bahwa ketika saya ditekan untuk melakukan sesuatu dengan cepat, maka itu bukan dari Tuhan. Dan biasanya tindakan itu merupakan kesalahan besar. Tuhan yang melihat akhir sesuatu dari awalnya tidak akan memburu-buru kita untuk melakukan sesuatu. Saya tahu beberapa nasehat alkitabiah untuk menanti-nantikan Tuhan dan bertindak sabar, tetapi saya belum pernah membaca satu ayatpun yang memerintahkan kita untuk bertindak terburu-buru. Melalui pengalaman dan kesalahan-kesalahan, saya belajar hal-hal tertentu tentang cara Dia memimpin dan berbicara.
Berikut ini adalah suatu prinsip penting bagi pelayanan yang benar tetapi seringkali disalahmengerti banyak orang. Roh Kudus adalah Penolong, bukan “pelaku”. Orang berkata bahwa pelayanan mereka benar karena tidak seorang pun dari mereka terlibat dalam pelayanan itu, hanya Roh Kudus yang bekerja. Sebenarnya keterlibatan mereka dalam pelayanan itu adalah hal yang benar. Jika Tuhan menghendaki suatu pelayanan yang 100 persen Dia lakukan sendiri tanpa keterlibatan kita, maka Dia tidak akan kembali ke surga, dan Dia tidak akan membiarkan seorang pun melakukan sesuatu.
Di kitab Lukas pasal 10 kita membaca bahwa Tuhan mengutus para muridNya berdua-dua untuk memberitakan Injil, menyembuhkan orang sakit, dan mengusir setan. Mereka begitu berhasil sehingga ketika kembali Yesus berkata bahwa Dia melihat setan jatuh dari atas seperti kilat. Tetapi, sebelum pasal berikutnya kita melihat bahwa para murid minta kepada Yesus untuk diajar berdoa. Mereka melakukan mujizat-mujizat itu tetapi tidak tahu bagaimana berdoa!
Para murid ini jelas kelihatan jauh dari sempurna, juga belum dewasa ketika Tuhan mempercayakan mereka dengan suatu otoritas yang luar biasa. Tetapi saya percaya bahwa mereka yang disembuhkan, dilepaskan, atau mendengar kabar baik tentang kerajaan Allah tidak ada yang komplain. Bahkan sebelum Yesus disalib para murid ribut mempertanyakan siapa yang terbesar padahal mereka sedang dalam pembentukan menjadi pemimpin gereja dalam beberapa minggu kemudian. Beberapa tahun kemudian, ada dari mereka masih melakukan kesalahan besar, seperti Petrus, yang harus diperingatkan oleh rasul paling muda di Antiokhia karena “dia hanya diam saja”.
Kita menjadi orang bodoh jika mencari kesempurnaan dalam pelayanan atau kepemimpinan, tidak perduli betapapun dewasanya mereka. Pengharapan kita jangan diletakkan pada bejana yang dipakai, melainkan pada harta yang ada di dalamnya, yaitu Roh Kudus. Jika kita terus menaruh rasa percaya kita kepadaNya dengan benar, kita tidak akan menjadi orang yang bergantung atau dikecewakan manusia secara berlebihan. Jika pelayanan atau para pemimpin memang benar-benar hamba, mereka tidak akan berusaha membangun rasa percaya orang lain pada mereka tetapi rasa percaya Tuhan pada mereka. Yesus adalah satu-satunya fondasi di mana kita bisa mendirikan suatu bangunan kekal. Kalau kita membangun rasa percaya manusia kepada kita dan bukan rasa percaya Tuhan, maka kita telah gagal, dan fondasi itu akan hancur juga, karena selain Tuhan tidak ada yang bisa menahan beban yang begitu berat.
Hal ini penting karena mentalitas sempurna yang didasarkan pada diri sendiri dan bukan pada Tuhanlah yang menghalangi banyak orang melangkah dalam panggilan dan pelayanan mereka. Kita tidak menjadi sempurna dulu baru bisa dipakai oleh Tuhan, tetapi kita disempurnakan dengan mau dipakai oleh Tuhan.
BAGIAN – 12
Perintah Agung memerintahkan kita untuk menjadikan orang murid Yesus, bukan hanya petobat. Definisi dari menjadikan murid adalah mengajar mereka untuk memperhatikan segala sesuatu yang diperintahkan Tuhan. Karena itu murid Kristus yang sesungguhnya pasti memiliki pandangan Kristen terhadap dunia, artinya melihat dunia seperti Kristus melihatnya. Penelitian menunjukkan bahwa 65 persen orang Amerika menyatakan diri lahir baru, tetapi hanya 6 persen yang benar-benar mempunyai pandangan Kristen terhadap dunia. Mengapa hal itu terjadi? Jelas bahwa kita hanya menjadikan mereka petobat, bukan murid.
Hal ini juga terlihat bahwa hanya 5 persen dari mereka yang “mengambil keputusan untuk menerima Yesus” berada dalam gereja. Dalam Perjanjian Baru setiap orang yang menerima Kristus bergabung dalam gereja. Tetapi hari ini memang banyak gereja yang jauh dari kehidupan gereja yang seharusnya, dan petobat-petobat baru merasa tidak punya hubungan dengan gereja. Jelas bahwa harus ada perubahan yang dilakukan untuk menjembatani kesenjangan antara kekristenan moderen dan alkitabiah.
Penyelesaian masalah ini ditunjukkan oleh kelima jawatan yang memperlengkapi umat Tuhan seperti tertulis dalam Efesus 4:11, yaitu rasul, nabi, penginjil, gembala dan guru, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, (Efesus 4:12-13)
Kita tidak bisa benar-benar menjadi murid Kristus tanpa setidaknya memiliki pandangan Kristen terhadap dunia. Apabila pandangan kita terhadap dunia lebih terbentuk oleh media, pendidikan sekuler, falsafah hidup yang diturunkan oleh orangtua atau nenek moyang yang tidak memiliki pandangan Kristen, atau bahkan pandangan-pandangan kita sendiri, maka kita bukanlah murid Kristus yang sebenarnya. Jika kita telah menerima pengajaran Kristus sendiri, maka kita akan mempunyai pandangan seperti Dia. Ini harus menjadi tujuan dasar setiap orang Kristen.
Memiliki pandangan Kristen merupakan hal yang penting untuk mengerti waktu. Kalau kita ingin menjadi gereja yang profetik, yang memiliki pesan dari Tuhan untuk dunia, maka seharusnyalah kita memandang dunia dari sudut pandang Dia. Oleh karena itu murid Kristus yang sebenarnya akan menghabiskan banyak waktu untuk mencari tahu pandangan Tuhan daripada pandangan orang lain. Pandangan Tuhan yang terutama disingkapkan di dalam Alkitab. Jika Yesus, yang adalah Firman Tuhan, selalu mengatakan “ada tertulis” ketika menghadapi tantangan si jahat, bukankah kita seharusnya lebih kuat lagi berdiri di atas Firman yang tertulis?
Karunia nubuatan memang menyingkapkan kehendak Tuhan yang bersifat taktis dan strategis. Tetapi hanya Firman yang tertulislah yang diberikan untuk membangun doktrin. Para nabi yang menulis Alkitab jelas memiliki kedalaman Firman dan menebarkannya melalui nubuatan mereka. Besar kemungkinannya bahwa kita akan dipercaya dengan karunia nubuatan hanya pada tingkat di mana kita telah membangun pandangan yang alkitabiah terhadap dunia, yaitu pandangan Tuhan Sendiri atas dunia.
Kita sedang berada pada masa di mana “segala sesuatu yang bisa digoncang akan digoncang” (Ibrani 12:27), dan semua pandangan dunia akan rontok karena tidak didasarkan pada kebenaran. Melalui perumpamaan kita diajar bahwa dengan mendengar dan mentaati Firman Tuhan kita membangun rumah di atas karang, sehingga sanggup menghadapi badai yang akan datang (Matius 7:24-25). Hanya Firman Tuhan yang berdiri teguh. Oleh karena itu membangun hidup kita serta pandangan kita terhadap dunia berdasarkan FirmanNya harus merupakan pengabdian hidup kita.
Mencari pandangan Tuhan, terutama yang ada di dalam Alkitab, merupakan dasar dari pelayanan profetik, bahkan dasar dari pemuridan. Saya belum pernah bertemu dengan seorang nabi yang benar yang tidak mempelajari Firman Tuhan dengan sungguh-sungguh. Kebanyakan dari mereka memiliki pengertian yang lebih dalam daripada para ahli teologi. Pencari Firman yang benar akan membaca Firman dengan gairah dan kecintaan, bukan karena kewajiban atau profesi.
Pelayanan profetik juga sangat supranatural dengan pengetahuan yang tidak diperoleh melalui pembelajaran. Memang ada pengecualian, tetapi kelihatannya mereka yang diberi karunia pewahyuan paling besar adalah mereka yang mempunyai fondasi kuat dalam Alkitab, dalam sejarah, dan dalam pengetahuan waktu di mana mereka berada. Nubuatan besar yang spektakuler dan supranaturallah yang mendapat perhatian dalam pelayanan profetik, tetapi itu tidaklah selalu yang paling penting, dan jelas bukan inti dari pelayanan profetik. Sama seperti kebangunan-kebangunan rohani yang spektakuler yang biasanya dimasukkan dalam buku sejarah, padahal itu hanya sebagian kecil saja dari pekerjaan Tuhan, demikian juga dengan nubuatan yang spektakuler, akan menarik perhatian besar, tetapi mungkin tidak sepenting nubuatan-nubuatan yang kurang spektakuler dan biasa. Karena itu tujuan utama kita bukanlah untuk menjadi spektakuler, melainkan taat dan setia hari lepas hari.
Minggu, 18 April 2010
Minggu, 11 April 2010
IMPARTASI dan PENGURAPAN
IMPARTASI dan PENGURAPAN------Home
(Bobby Conner)
Sebab aku ingin melihat kamu untuk memberikan karunia rohani kepadamu guna menguatkan kamu, Roma 1:11
Kerinduan hati rasul Paulus yang paling dalam bukanlah hanya bisa bertemu dengan orang-orang percaya, tetapi juga bisa memberi mereka karunia. Sebagai seorang rasul, motivasi hatinya bukanlah hanya mengajar, menanam gereja, melakukan mujizat, atau membangun tatanan apostolik saja – melainkan juga memberi semua yang bisa dia berikan, mengimpartasikan apa yang telah diberikan Tuhan kepadanya, mengalirkan dengan leluasa semua karunia-karunia rohani, sehingga mereka kuat.
Melakukan impartasi harus menjadi gairah semua orang percaya. Keinginan untuk mengimpartasi adalah keinginan hati Tuhan. Dia ingin mencurahkan DiriNya kepada seluruh keluargaNya, memperlengkapi orang percaya untuk melakukan persekutuan dengan Dia maupun untuk pelayanan (Efesus 4:11-12). Semua karunia dan kemampuan hanya datang dari Kristus dan untuk Kristus, jadi kita harus bersukacita menjadi suatu bejana yang bisa membantu orang lain maju dalam panggilan mereka, bukan diri kita sendiri. Tuhan memanggil kita untuk terlebih dahulu membantu orang lain – bukan pelayanan kita sendiri – sehingga bisa melangkah lebih tinggi bersama Tuhan. Kita sekali-kali tidak boleh melupakan prinsip ini: kita telah menerima dengan cuma-cuma, karena itu kita perlu memberi dengan cuma-cuma (Matius 10:8). Tujuan kita adalah menghadirkan Raja dalam kerajaanNya, membantu orang lain menemukan destini yang telah ditetapkan Tuhan bagi mereka, dan mempersiapkan mereka untuk bisa berfungsi lebih baik dalam panggilan mereka (Efesus 1:18).
Kata Yunani yang diterjemahkan sebagai impartasi ialah metadidomi , yang terdiri dari dua kata Yunani yaitu meta dan didomi. Meta berarti seperti berjalan bersama orang lain. Didomi berarti lebih dari sekedar memberi. Kata ini menunjukkan kelimpahan – memberi sepenuhnya kepada orang lain dengan penuh rasa percaya. Didomi berarti memberi seluruh yang ada pada seseorang. Jadi mengimpartasi berarti memberi dengan melimpah dari kedalaman diri seseorang. Tindakan “melimpahkan” ini sama dengan kata yang dipakai untuk menjelaskan bagaimana lautan “melimpahkan” apa yang tersembunyi di dalamnya. Dari kedalaman Roh Tuhan, melalui roh kita, terjadilah impartasi.
Yang harus diperhatikan dari impartasi yang indah ini adalah: kita tidak bisa memberikan apa yang tidak kita miliki. Kalau kita ingin mengimpartasi, pertama-tama kita harus mempunyai sesuatu untuk dilepaskan. Untuk bisa mengimpartasi, orang terlebih dahulu harus diurapi dengan apa yang akan diimpartasi. Dua realita spiritual dari impartasi dan pengurapan ini berbeda, tetapi saling berhubungan dan bekerjasama seperti yang dikehendaki Roh. Bagaimana hal ini terjadi?
Inilah kebenaran luar biasa dari kerajaan Tuhan: ketika kita berkotbah, mengajar, atau melayani dengan kasih, di dalam Roh Tuhan, kita mengimpartasikan substansi Kristus, bukan sekedar informasi tentang Dia.
Yesus meneguhkan janji profetik dari Yesaya 61:1-5:
"Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin .. Lukas 4:18
Menerima pengurapan berarti menerima kemampuan ilahi. Kemampuan apakah yang dimaksud? Pengurapan itu tidak kurang dari Kristus Sendiri: kata Yunani yang diterjemahkan sebagai mengurapi itu sama dengan akar kata yang berarti Kristus, yaitu chrio. Apa artinya mempunyai chrio atau diurapi? Itu berarti membawa Kristus, Yang Diurapi. Pengurapan yang sama ini menguduskan Raja kita untuk melakukan pelayanan Mesianik dan memberiNya kuasa untuk memerintah dalam KerajaanNya. Inilah urapan yang kita terima – Tuhan Yesus Kristus di atas dan di dalam hidup kita, Pribadi Roh Kudus Sendiri. Diurapi adalah diolesi dan dipenuhi dengan Kristus. Dalam bahasa Ibrani, mengurapi atau mashach berarti mengolesi dengan cairan atau menguduskan. Dengan kata lain, sebagai orang yang percaya Yesus Kristus kita dikuduskan sebagai imam kudus untuk melayani di dalam NamaNya, diurapi oleh Dia dan dengan Dia. Dialah urapan itu!
Dari mana urapan dan kuasa yang benar datang? Dari Roh Tuhan! Kita tidak melayani dari kemampuan akademis atau kemampuan manusiawi – tetapi urapan Roh Kudus, yang kemudian kita impartasikan.
Inilah pesan Tuhan yang penting dan urgent bagi gerejaNya: kita harus belajar untuk hidup dan bekerja di dalam dan melalui Dia, Yang Diurapi – bukan dengan kemauan dan kekuatan sendiri. Kita harus belajar mengimpartasikan Kristus – urapan, bukan agenda dan ide sendiri.
Banyak dari kita mempunyai pengalaman ini: kita mendengar kotbah atau pengajaran – kata-katanya benar dan tepat, bahkan sangat inspiratif, tetapi kita tidak bisa menerima kata-kata yang diucapkan dalam kedalaman hati kita. Pesan yang disampaikan mungkin menggairahkan untuk didengar dan direnungkan, bahkan dipelajari dan didiskusikan, tetapi hati kita tidak tergerak. Pengalaman ini sama dengan membaca buku pelajaran, mengikuti kuliah, atau mengikuti instruksi ketika belajar mengemudi. Kita mungkin sudah mencapai suatu tujuan dalam arti suatu argumentasi logis, atau kisah penuh warna, tetapi dalam realita kita tetap duduk di kursi kita, tidak berubah, bisa merasa mendapat dorongan, tetapi juga bisa menjadi bengkak dengan pengetahuan religius tentang Tuhan.
Mengapa hal itu terjadi? Kata-kata si pembicara tidak dibawa oleh nafas Tuhan, tetapi oleh jiwa dan keinginan baiknya sendiri – atau keangkuhan dan ambisinya sendiri. Kata-kata mereka tidak diurapi dengan substansi Kristus. Mungkin mereka telah berbicara dengan “lidah manusia dan malaikat”, tetapi Roh Kasih tidak hadir. Kata-kata mereka hanyalah “gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing” (1 Korintus 13:1). Pelayanan seperti ini tidak ada gunanya. Yesus mengingatkan bahwa tanpa Dia kita tidak bisa berbuat apa-apa (Yohanes 15:5).
Banyak dari kita mungkin mempunyai pengalaman berbeda ketika mendengar seseorang berkotbah atau mengajar. Mungkin kata-kata mereka biasa saja. Mungkin mereka lupa dengan catatannya. Mungkin mereka bicara dengan gagap bahkan kontradiksi dengan diri mereka! Mungkin mereka hanya membaca satu ayat atau memberi suatu ilustrasi atau mengucapkan sebuah doa sederhana. Mungkin mereka tidak berpendidikan tinggi, kaku, atau tidak berpengalaman – tetapi kita tergerak. Hati kita menyala seolah-olah Kristus Sendiri yang berbicara, berdiri di depan kita. Dan memang benar demikian! Kasih berbicara … dan suatu dunia baru tercipta di dalam kita. Tuhan memilih yang bodoh bagi dunia untuk mempermalukan yang berhikmat (1 Korintus1:27).
Inilah perbedaan antara melayani dengan urapan Kristus dan berbicara dari kemampuan dan pelatihan alami seseorang.
Setelah mengerti dan belajar menerima urapanNya, kita sekarang mengerti apa arti impartasi yang sebenarnya. Kemampuan untuk mengimpartasi bisa dilakukan apabila kita menerima urapan. Kalau kita mempunyai karunia untuk mengimpartasi seperti ini, apapun yang kita katakan atau lakukan di dalam pengurapan akan memberi dampak yang dalam pada mereka yang mendengarkan. Substansi Kristus akan diimpartasikan pada roh mereka yang responsif.
Aku mengasihi orang yang mengasihi aku, dan orang yang tekun mencari aku akan mendapatkan daku supaya kuwariskan harta kepada yang mengasihi aku, dan kuisi penuh perbendaharaan mereka (Amsal 8:17, 21).
Tuhan ingin memberi kita harta spiritual. Harta yang Dia berikan ini tidak ternilai dan tidak bisa dibandingkan dengan apapun yang kita miliki. Tidak ada gunanya kita membagikan sesuatu kepada mereka yang mendengar kita jika kita belum memiliki harta ini dan tinggal di dalamnya – yaitu Kristus Sendiri – yang kita terima sebagai roti segar setiap hari. Apa yang dimaksudkan Tuhan dalam Amsal di atas dengan mengisi penuh perbendaharaan mereka? “Perbendaharaan kita dipenuhi” bisa diartikan sebagai cabang yang menerima impartasi kehidupan dari pokok anggur. Kita harus dipenuhi dengan kehadiran Kristus, sehingga dari dalam diri kita mengalir sungai kehidupan.
Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.
Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. (Yohanes 15:4-5)
Aspek Paling Penting dari Pelayanan Apapun atau Perjumpaan Pribadi Bukanlah Kata-kata Melainkan Impartasi dari “Roh dan Kehidupan”
Kemampuan untuk mengimpartasi ini berhubungan dengan hubungan pribadi yang berkualitas dengan Yesus (mereka yang mencari Aku pagi-pagi) – karena Dia telah memberi impartasi kepada kita terlebih dahulu. Perhatikan janji ini: kita akan dipenuhi apabila prioritas tertinggi kita adalah mencari Dia (Matius 6:33). Kita hanya bisa menemukan Dia pada tingkat ini apabila kita mencari dengan sepenuh hati (Yeremia 29:12-13). Dia layak menerima tidak kurang dari itu!
Seorang Kristen yang punya komitmen dan mempunyai karunia untuk mengimpartasi seperti ini akan menonjol di antara orang lain karena dia membawa kemuliaan Tuhan. Tujuan hati kita adalah membawa hadirat Tuhan yang tinggal sedemikian rupa sehingga orang lain bisa merasakan dan mendengar Dia ketika kita melayani. Tujuan kita adalah dipenuhi dengan kemuliaan hadirat Tuhan yang kuat dan pekat. Akan menjadi suatu kesaksian yang indah bila orang berkata bahwa urapan Kristus Sendiri ada di dalam hidup seseorang dan pelayanannya.
Ketika urapan ini aktif, orang ditarik dengan rasa lapar yang kuat. Seringkali apabila seseorang yang memiliki urapan Kristus yang sebenarnya selesai bicara, orang akan berkata, “Tolong teruskan pesannya” atau “Saya bisa mendengarkan anda berjam-jam.” Mengapa orang merespon seperti itu? Mereka merespon bukan karena kedalaman Firman yang disampaikan atau karena urapan luar biasa pada si pembicara, tetapi pada “impartasi” yang mengalir melalui roh. Melalui karunia impartasi, kita menjadi saluran di mana kehidupan Tuhan mengalir pada roh orang lain! Inilah hati dari setiap pelayanan – baik di atas mimbar, di tempat kerja, atau di meja dapur.
Ketika saya melayani, saya bisa melihat apakah orang-orang telah terhubung dengan Roh atau apakah mereka mencoba mengerti secara intelektual. Alangkah indahnya apabila mereka mendapat makanan secara spiritual, bukan secara natural – dan mereka tahu bahwa mereka menerima sesuatu yang luar biasa – substansi ilahiNya.
Sekali lagi saya ingin menggaris bawahi bahwa kita tidak bisa memberi apa yang tidak kita miliki:
Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup. (Yohanes 6:63)
Karunia “pewahyuan profetik” memampukan kita untuk mengatakan suatu pesan. Kemudian, melalui pengurapan itu pesan tersebut bisa diimpartasikan kepada orang lain. Saya banyak berdoa untuk pengurapan dan karunia nubuatan ini dalam hidup saya, dengan disertai kemampuan untuk mengimpartasi. Kita harus menyediakan waktu khusus untuk Tuhan agar bisa dipenuhi dengan substansi spiritualNya, sehingga bisa mengimpartasikan keberadaanNya (Yeremia 3:15). Kita harus datang di hadapan tahtaNya setiap hari untuk menerima roti segar dari surga untuk memberi makan umatNya (Kisah 20:28).
Saya telah berkotbah lebih dari 40 tahun, rata-rata berbicara lima kali setiap minggu selama empat dekade. Selama pelayanan itu, saya belajar bagaimana membawa orang-orang kepada Kristus, bukan kepada diri saya sendiri. Tuhan pernah berkata begini, “Bentuk pengkhianatan paling besar adalah apabila hamba-hambaKu yang menerima karunia untuk memenangkan jiwa bagiKu – ternyata memakai karunia itu untuk membawa orang-orang itu bagi diri mereka sendiri.” Semoga tidak ada dari kita yang kedapatan melakukan tindak kriminal ini!
Aspek terpenting dari setiap pelayanan - bahkan perjumpaan pribadi apapun, bukanlah kata-kata, atau pengertian dari kata-kata tersebut, melainkan impartasi dari “Roh dan Kehidupan” – yaitu substansi spiritual Kristus yang mengalir melalui kata-kataNya dan RohNya yang diurapi kepada roh mereka yang siap menerima.
Bagaimana Menerima dan Mengembangkan Karunia untuk Mengimpartasi?
Kita ulang kembali: pewahyuan profetik memampukan kita untuk mengatakan suatu pesan. Pengurapan itu memampukan kita untuk mengucapkan kata-kata yang diberikan kepada kita. Kemudian, melalui impartasi, kata-kata itu menjadi roh dan kehidupan dan mengalir di dalam kedalaman mereka yang mempunyai telinga untuk mendengar. Kita harus berdoa agar bukan hanya pesan kita yang diimpartasi melalui pengurapanNya, tetapi juga agar mereka yang mendengar pesan kita mempunyai hati yang terbuka dan telinga yang mendengar. Mereka yang siap menerima secara spiritual akan mengalami Substansi Ilahi mengalir ke dalam diri mereka: inilah kehidupan pokok anggur Yesus yang mengalir ke cabang-cabang – para pendengar - dan aliran substansi ini berbeda dari pesan sebenarnya yang sedang disampaikan. Pendengar yang mempunyai telinga untuk mendengar akan menginginkan lebih lagi ketika mereka mengenali bahwa roh itu mengalir kepada mereka.
Demikianlah kami, dalam kasih sayang yang besar akan kamu, bukan saja rela membagi Injil Allah dengan kamu, tetapi juga hidup kami sendiri dengan kamu, karena kamu telah kami kasihi. (1 Tesalonika 2:8)
Bagaimanakah cara menerima dan mengembangkan karunia untuk mengimpartasi ini? Melalui waktu persekutuan yang berkualitas dengan Yesus dan dengan menginginkan kemampuan ini agar Dia memberi makan kepada mereka yang lapar secara spiritual. Memiliki fakta dan informasi logis itu baik – dan kita memang harus belajar seperti orang-orang Berea - tetapi pengetahuan tentang Firman saja tidak bisa memberi makan roh kita. Hanya pengurapan yang memampukan kita berbicara tentang Tuhan dan untuk Tuhan, dan hanya impartasi dari Tuhan yang bisa memberi makan roh kita dan roh mereka yang ada di sekitar kita.
Tetapi yang kami beritakan ialah hikmat Allah yang tersembunyi dan rahasia, yang sebelum dunia dijadikan, telah disediakan Allah bagi kemuliaan kita. (1 Korintus 2:7) Impartasi itu tidak bisa dilihat – itu adalah substansi spiritual yang melekat pada kata-kata. Seperti pembonceng yang tidak kelihatan, impartasi membawa Firman Tuhan memasuki roh mereka yang lapar spiritual. Mereka mungkin tidak mengerti apa yang terjadi, tetapi mereka tahu bahwa mereka diberi makan dan akan merespon. Sungguh luar biasa bila kita meninggalkan suatu kebaktian atau percakapan dan tahu bahwa Tuhan disenangkan dengan apa yang terjadi.
Demikianlah pula, ketika aku datang kepadamu, saudara-saudara, aku tidak datang dengan kata-kata yang indah atau dengan hikmat untuk menyampaikan kesaksian Allah kepada kamu.
Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan.
Aku juga telah datang kepadamu dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar.
Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh, (1 Korintus 2:1-4)
Paulus berkata bahwa kata-kata yang dia sampaikan bukanlah dengan hikmat manusia melainkan dengan demonstrasi Roh. Demonstrasi Roh ini adalah impartasi yang terjadi, yang tidak ada kaitannya dengan kata-kata itu sendiri. Ini adalah kehidupan dan energi ilahi Kristus yang mengalir dari Tuhan melalui si pembicara kepada mereka yang siap menerima.
Keinginan saya yang paling dalam adalah mengimpartasikan kehidupan Kristus yang telah diimpartasikan kepada saya.
Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah.(1 Petrus 2:5)
Keberadaan kita sebagai “batu yang hidup” berarti bahwa kita telah menjadi “radiasi ilahi” yaitu – di manapun kita berada, apapun yang kita ucapkan dan lakukan, kita menyebarkan Dia, Roh Tuhan yang luar biasa, melalui impartasi urapanNya.
(Bobby Conner)
Sebab aku ingin melihat kamu untuk memberikan karunia rohani kepadamu guna menguatkan kamu, Roma 1:11
Kerinduan hati rasul Paulus yang paling dalam bukanlah hanya bisa bertemu dengan orang-orang percaya, tetapi juga bisa memberi mereka karunia. Sebagai seorang rasul, motivasi hatinya bukanlah hanya mengajar, menanam gereja, melakukan mujizat, atau membangun tatanan apostolik saja – melainkan juga memberi semua yang bisa dia berikan, mengimpartasikan apa yang telah diberikan Tuhan kepadanya, mengalirkan dengan leluasa semua karunia-karunia rohani, sehingga mereka kuat.
Melakukan impartasi harus menjadi gairah semua orang percaya. Keinginan untuk mengimpartasi adalah keinginan hati Tuhan. Dia ingin mencurahkan DiriNya kepada seluruh keluargaNya, memperlengkapi orang percaya untuk melakukan persekutuan dengan Dia maupun untuk pelayanan (Efesus 4:11-12). Semua karunia dan kemampuan hanya datang dari Kristus dan untuk Kristus, jadi kita harus bersukacita menjadi suatu bejana yang bisa membantu orang lain maju dalam panggilan mereka, bukan diri kita sendiri. Tuhan memanggil kita untuk terlebih dahulu membantu orang lain – bukan pelayanan kita sendiri – sehingga bisa melangkah lebih tinggi bersama Tuhan. Kita sekali-kali tidak boleh melupakan prinsip ini: kita telah menerima dengan cuma-cuma, karena itu kita perlu memberi dengan cuma-cuma (Matius 10:8). Tujuan kita adalah menghadirkan Raja dalam kerajaanNya, membantu orang lain menemukan destini yang telah ditetapkan Tuhan bagi mereka, dan mempersiapkan mereka untuk bisa berfungsi lebih baik dalam panggilan mereka (Efesus 1:18).
Kata Yunani yang diterjemahkan sebagai impartasi ialah metadidomi , yang terdiri dari dua kata Yunani yaitu meta dan didomi. Meta berarti seperti berjalan bersama orang lain. Didomi berarti lebih dari sekedar memberi. Kata ini menunjukkan kelimpahan – memberi sepenuhnya kepada orang lain dengan penuh rasa percaya. Didomi berarti memberi seluruh yang ada pada seseorang. Jadi mengimpartasi berarti memberi dengan melimpah dari kedalaman diri seseorang. Tindakan “melimpahkan” ini sama dengan kata yang dipakai untuk menjelaskan bagaimana lautan “melimpahkan” apa yang tersembunyi di dalamnya. Dari kedalaman Roh Tuhan, melalui roh kita, terjadilah impartasi.
Yang harus diperhatikan dari impartasi yang indah ini adalah: kita tidak bisa memberikan apa yang tidak kita miliki. Kalau kita ingin mengimpartasi, pertama-tama kita harus mempunyai sesuatu untuk dilepaskan. Untuk bisa mengimpartasi, orang terlebih dahulu harus diurapi dengan apa yang akan diimpartasi. Dua realita spiritual dari impartasi dan pengurapan ini berbeda, tetapi saling berhubungan dan bekerjasama seperti yang dikehendaki Roh. Bagaimana hal ini terjadi?
Inilah kebenaran luar biasa dari kerajaan Tuhan: ketika kita berkotbah, mengajar, atau melayani dengan kasih, di dalam Roh Tuhan, kita mengimpartasikan substansi Kristus, bukan sekedar informasi tentang Dia.
Yesus meneguhkan janji profetik dari Yesaya 61:1-5:
"Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin .. Lukas 4:18
Menerima pengurapan berarti menerima kemampuan ilahi. Kemampuan apakah yang dimaksud? Pengurapan itu tidak kurang dari Kristus Sendiri: kata Yunani yang diterjemahkan sebagai mengurapi itu sama dengan akar kata yang berarti Kristus, yaitu chrio. Apa artinya mempunyai chrio atau diurapi? Itu berarti membawa Kristus, Yang Diurapi. Pengurapan yang sama ini menguduskan Raja kita untuk melakukan pelayanan Mesianik dan memberiNya kuasa untuk memerintah dalam KerajaanNya. Inilah urapan yang kita terima – Tuhan Yesus Kristus di atas dan di dalam hidup kita, Pribadi Roh Kudus Sendiri. Diurapi adalah diolesi dan dipenuhi dengan Kristus. Dalam bahasa Ibrani, mengurapi atau mashach berarti mengolesi dengan cairan atau menguduskan. Dengan kata lain, sebagai orang yang percaya Yesus Kristus kita dikuduskan sebagai imam kudus untuk melayani di dalam NamaNya, diurapi oleh Dia dan dengan Dia. Dialah urapan itu!
Dari mana urapan dan kuasa yang benar datang? Dari Roh Tuhan! Kita tidak melayani dari kemampuan akademis atau kemampuan manusiawi – tetapi urapan Roh Kudus, yang kemudian kita impartasikan.
Inilah pesan Tuhan yang penting dan urgent bagi gerejaNya: kita harus belajar untuk hidup dan bekerja di dalam dan melalui Dia, Yang Diurapi – bukan dengan kemauan dan kekuatan sendiri. Kita harus belajar mengimpartasikan Kristus – urapan, bukan agenda dan ide sendiri.
Banyak dari kita mempunyai pengalaman ini: kita mendengar kotbah atau pengajaran – kata-katanya benar dan tepat, bahkan sangat inspiratif, tetapi kita tidak bisa menerima kata-kata yang diucapkan dalam kedalaman hati kita. Pesan yang disampaikan mungkin menggairahkan untuk didengar dan direnungkan, bahkan dipelajari dan didiskusikan, tetapi hati kita tidak tergerak. Pengalaman ini sama dengan membaca buku pelajaran, mengikuti kuliah, atau mengikuti instruksi ketika belajar mengemudi. Kita mungkin sudah mencapai suatu tujuan dalam arti suatu argumentasi logis, atau kisah penuh warna, tetapi dalam realita kita tetap duduk di kursi kita, tidak berubah, bisa merasa mendapat dorongan, tetapi juga bisa menjadi bengkak dengan pengetahuan religius tentang Tuhan.
Mengapa hal itu terjadi? Kata-kata si pembicara tidak dibawa oleh nafas Tuhan, tetapi oleh jiwa dan keinginan baiknya sendiri – atau keangkuhan dan ambisinya sendiri. Kata-kata mereka tidak diurapi dengan substansi Kristus. Mungkin mereka telah berbicara dengan “lidah manusia dan malaikat”, tetapi Roh Kasih tidak hadir. Kata-kata mereka hanyalah “gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing” (1 Korintus 13:1). Pelayanan seperti ini tidak ada gunanya. Yesus mengingatkan bahwa tanpa Dia kita tidak bisa berbuat apa-apa (Yohanes 15:5).
Banyak dari kita mungkin mempunyai pengalaman berbeda ketika mendengar seseorang berkotbah atau mengajar. Mungkin kata-kata mereka biasa saja. Mungkin mereka lupa dengan catatannya. Mungkin mereka bicara dengan gagap bahkan kontradiksi dengan diri mereka! Mungkin mereka hanya membaca satu ayat atau memberi suatu ilustrasi atau mengucapkan sebuah doa sederhana. Mungkin mereka tidak berpendidikan tinggi, kaku, atau tidak berpengalaman – tetapi kita tergerak. Hati kita menyala seolah-olah Kristus Sendiri yang berbicara, berdiri di depan kita. Dan memang benar demikian! Kasih berbicara … dan suatu dunia baru tercipta di dalam kita. Tuhan memilih yang bodoh bagi dunia untuk mempermalukan yang berhikmat (1 Korintus1:27).
Inilah perbedaan antara melayani dengan urapan Kristus dan berbicara dari kemampuan dan pelatihan alami seseorang.
Setelah mengerti dan belajar menerima urapanNya, kita sekarang mengerti apa arti impartasi yang sebenarnya. Kemampuan untuk mengimpartasi bisa dilakukan apabila kita menerima urapan. Kalau kita mempunyai karunia untuk mengimpartasi seperti ini, apapun yang kita katakan atau lakukan di dalam pengurapan akan memberi dampak yang dalam pada mereka yang mendengarkan. Substansi Kristus akan diimpartasikan pada roh mereka yang responsif.
Aku mengasihi orang yang mengasihi aku, dan orang yang tekun mencari aku akan mendapatkan daku supaya kuwariskan harta kepada yang mengasihi aku, dan kuisi penuh perbendaharaan mereka (Amsal 8:17, 21).
Tuhan ingin memberi kita harta spiritual. Harta yang Dia berikan ini tidak ternilai dan tidak bisa dibandingkan dengan apapun yang kita miliki. Tidak ada gunanya kita membagikan sesuatu kepada mereka yang mendengar kita jika kita belum memiliki harta ini dan tinggal di dalamnya – yaitu Kristus Sendiri – yang kita terima sebagai roti segar setiap hari. Apa yang dimaksudkan Tuhan dalam Amsal di atas dengan mengisi penuh perbendaharaan mereka? “Perbendaharaan kita dipenuhi” bisa diartikan sebagai cabang yang menerima impartasi kehidupan dari pokok anggur. Kita harus dipenuhi dengan kehadiran Kristus, sehingga dari dalam diri kita mengalir sungai kehidupan.
Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.
Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. (Yohanes 15:4-5)
Aspek Paling Penting dari Pelayanan Apapun atau Perjumpaan Pribadi Bukanlah Kata-kata Melainkan Impartasi dari “Roh dan Kehidupan”
Kemampuan untuk mengimpartasi ini berhubungan dengan hubungan pribadi yang berkualitas dengan Yesus (mereka yang mencari Aku pagi-pagi) – karena Dia telah memberi impartasi kepada kita terlebih dahulu. Perhatikan janji ini: kita akan dipenuhi apabila prioritas tertinggi kita adalah mencari Dia (Matius 6:33). Kita hanya bisa menemukan Dia pada tingkat ini apabila kita mencari dengan sepenuh hati (Yeremia 29:12-13). Dia layak menerima tidak kurang dari itu!
Seorang Kristen yang punya komitmen dan mempunyai karunia untuk mengimpartasi seperti ini akan menonjol di antara orang lain karena dia membawa kemuliaan Tuhan. Tujuan hati kita adalah membawa hadirat Tuhan yang tinggal sedemikian rupa sehingga orang lain bisa merasakan dan mendengar Dia ketika kita melayani. Tujuan kita adalah dipenuhi dengan kemuliaan hadirat Tuhan yang kuat dan pekat. Akan menjadi suatu kesaksian yang indah bila orang berkata bahwa urapan Kristus Sendiri ada di dalam hidup seseorang dan pelayanannya.
Ketika urapan ini aktif, orang ditarik dengan rasa lapar yang kuat. Seringkali apabila seseorang yang memiliki urapan Kristus yang sebenarnya selesai bicara, orang akan berkata, “Tolong teruskan pesannya” atau “Saya bisa mendengarkan anda berjam-jam.” Mengapa orang merespon seperti itu? Mereka merespon bukan karena kedalaman Firman yang disampaikan atau karena urapan luar biasa pada si pembicara, tetapi pada “impartasi” yang mengalir melalui roh. Melalui karunia impartasi, kita menjadi saluran di mana kehidupan Tuhan mengalir pada roh orang lain! Inilah hati dari setiap pelayanan – baik di atas mimbar, di tempat kerja, atau di meja dapur.
Ketika saya melayani, saya bisa melihat apakah orang-orang telah terhubung dengan Roh atau apakah mereka mencoba mengerti secara intelektual. Alangkah indahnya apabila mereka mendapat makanan secara spiritual, bukan secara natural – dan mereka tahu bahwa mereka menerima sesuatu yang luar biasa – substansi ilahiNya.
Sekali lagi saya ingin menggaris bawahi bahwa kita tidak bisa memberi apa yang tidak kita miliki:
Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup. (Yohanes 6:63)
Karunia “pewahyuan profetik” memampukan kita untuk mengatakan suatu pesan. Kemudian, melalui pengurapan itu pesan tersebut bisa diimpartasikan kepada orang lain. Saya banyak berdoa untuk pengurapan dan karunia nubuatan ini dalam hidup saya, dengan disertai kemampuan untuk mengimpartasi. Kita harus menyediakan waktu khusus untuk Tuhan agar bisa dipenuhi dengan substansi spiritualNya, sehingga bisa mengimpartasikan keberadaanNya (Yeremia 3:15). Kita harus datang di hadapan tahtaNya setiap hari untuk menerima roti segar dari surga untuk memberi makan umatNya (Kisah 20:28).
Saya telah berkotbah lebih dari 40 tahun, rata-rata berbicara lima kali setiap minggu selama empat dekade. Selama pelayanan itu, saya belajar bagaimana membawa orang-orang kepada Kristus, bukan kepada diri saya sendiri. Tuhan pernah berkata begini, “Bentuk pengkhianatan paling besar adalah apabila hamba-hambaKu yang menerima karunia untuk memenangkan jiwa bagiKu – ternyata memakai karunia itu untuk membawa orang-orang itu bagi diri mereka sendiri.” Semoga tidak ada dari kita yang kedapatan melakukan tindak kriminal ini!
Aspek terpenting dari setiap pelayanan - bahkan perjumpaan pribadi apapun, bukanlah kata-kata, atau pengertian dari kata-kata tersebut, melainkan impartasi dari “Roh dan Kehidupan” – yaitu substansi spiritual Kristus yang mengalir melalui kata-kataNya dan RohNya yang diurapi kepada roh mereka yang siap menerima.
Bagaimana Menerima dan Mengembangkan Karunia untuk Mengimpartasi?
Kita ulang kembali: pewahyuan profetik memampukan kita untuk mengatakan suatu pesan. Pengurapan itu memampukan kita untuk mengucapkan kata-kata yang diberikan kepada kita. Kemudian, melalui impartasi, kata-kata itu menjadi roh dan kehidupan dan mengalir di dalam kedalaman mereka yang mempunyai telinga untuk mendengar. Kita harus berdoa agar bukan hanya pesan kita yang diimpartasi melalui pengurapanNya, tetapi juga agar mereka yang mendengar pesan kita mempunyai hati yang terbuka dan telinga yang mendengar. Mereka yang siap menerima secara spiritual akan mengalami Substansi Ilahi mengalir ke dalam diri mereka: inilah kehidupan pokok anggur Yesus yang mengalir ke cabang-cabang – para pendengar - dan aliran substansi ini berbeda dari pesan sebenarnya yang sedang disampaikan. Pendengar yang mempunyai telinga untuk mendengar akan menginginkan lebih lagi ketika mereka mengenali bahwa roh itu mengalir kepada mereka.
Demikianlah kami, dalam kasih sayang yang besar akan kamu, bukan saja rela membagi Injil Allah dengan kamu, tetapi juga hidup kami sendiri dengan kamu, karena kamu telah kami kasihi. (1 Tesalonika 2:8)
Bagaimanakah cara menerima dan mengembangkan karunia untuk mengimpartasi ini? Melalui waktu persekutuan yang berkualitas dengan Yesus dan dengan menginginkan kemampuan ini agar Dia memberi makan kepada mereka yang lapar secara spiritual. Memiliki fakta dan informasi logis itu baik – dan kita memang harus belajar seperti orang-orang Berea - tetapi pengetahuan tentang Firman saja tidak bisa memberi makan roh kita. Hanya pengurapan yang memampukan kita berbicara tentang Tuhan dan untuk Tuhan, dan hanya impartasi dari Tuhan yang bisa memberi makan roh kita dan roh mereka yang ada di sekitar kita.
Tetapi yang kami beritakan ialah hikmat Allah yang tersembunyi dan rahasia, yang sebelum dunia dijadikan, telah disediakan Allah bagi kemuliaan kita. (1 Korintus 2:7) Impartasi itu tidak bisa dilihat – itu adalah substansi spiritual yang melekat pada kata-kata. Seperti pembonceng yang tidak kelihatan, impartasi membawa Firman Tuhan memasuki roh mereka yang lapar spiritual. Mereka mungkin tidak mengerti apa yang terjadi, tetapi mereka tahu bahwa mereka diberi makan dan akan merespon. Sungguh luar biasa bila kita meninggalkan suatu kebaktian atau percakapan dan tahu bahwa Tuhan disenangkan dengan apa yang terjadi.
Demikianlah pula, ketika aku datang kepadamu, saudara-saudara, aku tidak datang dengan kata-kata yang indah atau dengan hikmat untuk menyampaikan kesaksian Allah kepada kamu.
Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan.
Aku juga telah datang kepadamu dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar.
Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh, (1 Korintus 2:1-4)
Paulus berkata bahwa kata-kata yang dia sampaikan bukanlah dengan hikmat manusia melainkan dengan demonstrasi Roh. Demonstrasi Roh ini adalah impartasi yang terjadi, yang tidak ada kaitannya dengan kata-kata itu sendiri. Ini adalah kehidupan dan energi ilahi Kristus yang mengalir dari Tuhan melalui si pembicara kepada mereka yang siap menerima.
Keinginan saya yang paling dalam adalah mengimpartasikan kehidupan Kristus yang telah diimpartasikan kepada saya.
Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah.(1 Petrus 2:5)
Keberadaan kita sebagai “batu yang hidup” berarti bahwa kita telah menjadi “radiasi ilahi” yaitu – di manapun kita berada, apapun yang kita ucapkan dan lakukan, kita menyebarkan Dia, Roh Tuhan yang luar biasa, melalui impartasi urapanNya.
Disadur bebas oleh Iskak Hutomo
Rabu, 07 April 2010
Siap Menghadapi Akhir Jaman (9 & 10)
(Rick Joyner, Prepared for the Times)-----Home---Artikel
Bagian – 9
Alam merupakan sebuah media di mana Tuhan berbicara kepada kita. “Alam adalah buku Tuhan yang kedua” – inilah pada dasarnya yang dikatakan oleh Rasul Paulus di kitab Roma 1 dan juga dinyatakan dalam Mazmur 19. Seperti tertulis di Kolose 1, Yohanes 1, dan berbagai kitab lain, segala sesuatu diciptakan melalui Yesus dan bagi Dia, dan semua berbicara tentang Dia. Saya sangat percaya bahwa segala sesuatu di alam berbicara tentang Yesus, satu-satunya Anak, dan kesayangan hati Bapa, pada kedalaman yang tak terbatas. Karena kita merupakan satu bagian besar dari rencana Bapa untuk AnakNya, kita juga bisa melihat tempat kita di dalam pesan penciptaan.
Kunci untuk membuka pesan pada segala sesuatu adalah Yesus. Dia adalah segala yang Bapa kasihi, dan segala sesuatu diciptakan melalui dan untuk Dia. Dalam segala yang diciptakan Bapa mencari Sang Anak. Dia mencari AnakNya di dalam kita. Efesus 1:9-10 berkata, “Sebab Ia telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita, sesuai dengan rencana kerelaan-Nya, yaitu rencana kerelaan yang dari semula telah ditetapkan-Nya di dalam Kristus sebagai persiapan kegenapan waktu untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di sorga maupun yang di bumi.” Karena tujuan utama Tuhan adalah untuk mempersatukan segala sesuatu di dalam AnakNya, sedangkan panggilan dasar kita adalah untuk bertumbuh dalam segala hal ke arah Dia, melihat Sang Anak merupakan hal yang dasar untuk mengerti apa yang sedang dikerjakan Bapa. Yesus adalah komunikasi dasar dari Tuhan, karena itu Dia disebut “Firman” Tuhan dalam pasal pertama injil Yohanes.
Karena ada kunci-kunci dasar dalam mempelajari bahasa, Yesus merupakan kunci dasar untuk mengerti bahasa Allah. Kalau engkau ingin mengerti apa yang dikatakan Tuhan melalui suatu keadaan, lihatlah dari sudut pandang Roh Kudus yang ingin menampilkan Sang Anak dalam dirimu, dan itu biasanya menjadi sangat jelas. Firman Tuhan berkata, “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” (Roma 8:28). Hal terbaik yang bisa datang atas kita adalah melihat kemuliaanNya dan diubahkan menjadi serupa dengan Dia. Mulailah mencari Dia dalam segala hal.
Saya suka membaca penemuan-penemuan dalam ilmu fisika dan astronomi karena Mazmur 19 itu benar – langit menyatakan kemuliaanNya! Seseorang pernah berkata bahwa hal terburuk yang dialami oleh seorang ateis adalah melihat keindahan matahari terbenam tanpa bisa mengucap syukur. Bagaimana kita bisa melihat kagum pada kemuliaan suatu ciptaan tanpa mengagungkan sang Pencipta? Elizabeth Barrett Browning pernah berkata, “Bumi penuh sesak dengan surga, dan setiap semak menyala dengan Tuhan; tetapi hanya mereka yang melihatnya melepaskan kasut. Yang lain hanya duduk di sekelilingnya dan memetik buah berry.” Karena itu kita mau melihat bukan hanya dengan mata alami, tetapi juga dengan mata spiritual. Inilah yang didoakan oleh rasul Paulus dalam kitab Efesus 1, agar “mata hati kita dibuka”.
Newton mendapat predikat sebagai “bapak fisika moderen”, dan dia adalah seorang Kristen yang penuh gairah dan selalu mencari Kristus dalam setiap ciptaan. Newton juga percaya pada apa yang sekarang disebut sebagai “Kode Alkitab”. Bertahun-tahun dia menyelidiki hal ini. Kode Alkitab itu memang ada, tetapi terlalu pelik untuk bisa ditemukan tanpa bantuan komputer, sedangkan Tuhan ingin menyimpannya sampai akhir jaman. Masalahnya bukanlah apakah engkau percaya pada kode Alkitab atau tidak. Newton melihat suatu simetri dan presisi matematis dalam ciptaan sehingga dia percaya bahwa itu juga ada di dalam Alkitab, pada lapisan kedalaman arti dan tujuan. Ini karena pada jamannya mereka baru saja menemukan melalui mikroskop yang tidak terlalu canggih, bahwa ada blok-blok bangunan begitu banyak pada ciptaan, yang tidak mereka ketahui sebelumnya. Memang tidak mudah untuk dijelaskan, tetapi ada kemungkinan bahwa Newton telah “melihat dalam cermin gambaran samar-samar” (1 Kor 13:12) hal-hal seperti gen dan DNA.
Ide Newton tentang Kode Alkitab tidak muncul hanya dari penelitiannya terhadap ciptaan saja, tetapi juga dari beberapa teman-teman Rabbi yang telah percaya pada adanya Kode Alkitab selama beberapa generasi. Kode Alkitab tidaklah diperlukan untuk iman orang yang memiliki Roh Kudus. Tetapi eksistensinya merupakan suatu kesaksian betapa dalam dan ruwetnya komunikasi Tuhan dengan umatNya, juga betapa dahsyatnya keteraturan yang Dia tetapkan dalam segala hal. Mungkin kita melihat banyak situasi dan kejadian yang begitu saja kita jumpai, tetapi itu hanyalah sejauh yang bisa ditangkap oleh manusia. Dalam ciptaan ada suatu keteraturan dan tujuan yang lebih dalam, lebih tinggi, lebih jauh, dan lebih luas dari yang bisa dijangkau oleh pikiran manusia.
Einstein juga melihat adanya suatu hubungan yang dalam di dalam seluruh ciptaan yang dia sebut sebagai “Alasan yang memanifestasikan diri di alam”. Alasan ini adalah Kristus, melalui Siapa dan untuk Siapa segala sesuatu diciptakan. Karena itulah segala sesuatu dipersatukan oleh kuasa Firman (Kristus). Segala sesuatu bukanlah Tuhan, seperti yang dipercayai oleh kaum pantheist. Tetapi Dia sebenarnya ada di dalam segala sesuatu dan mempersatukan seluruh alam semesta. Rasul Paulus menyatakannya sebagai berikut, “Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada,” Kolose 1:27 mengatakan, “Kristus ada di tengah-tengah kamu (di dalam kamu), Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan!” Kadang-kadang lebih mudah bagi kita untuk melihat Kristus di alam daripada dalam diri kita. Ingatlah, kita adalah baitNya! Karena itu Dia berbicara kepada kita dari dalam, dan kita perlu mengenali suaraNya ketika Dia berbicara. Dia juga berbicara kepada kita melalui umatNya, dan kita perlu bisa menangkap suaraNya. Sekali lagi, ini bukanlah suatu pelajaran untuk mengenal firman Tuhan saja, melainkan juga mengenal Firman itu Sendiri. Ketika kita mengenal Dia, kita akan mengenali suaraNya kapan saja, dan melalui siapapun yang Dia pakai untuk berbicara.
SIAP – 10
Kita membaca dari kitab Wahyu 2:20 bahwa Izebel “menyebut dirinya nabiah”. Kita harus waspada pada mereka yang kehidupan spiritualnya begitu kecil sehingga harus mempromosikan diri sedemikian rupa dan memakai sebutan hebat agar dikenal orang. Saya mendapat kesempatan untuk mengenal beberapa orang yang benar-benar berjalan dalam pelayanan profetik yang murni dan tidak seorangpun dari mereka ini yang perduli apakah orang mengenal mereka sebagai nabi. Leonard Ravenhill pernah berkata kepada saya, “Engkau tidak perlu mengiklankan api.” Kalau engkau benar-benar memiliki sesuatu, engkau tidak perlu mempromosikan diri. Yesus berkata dalam Yohanes 7:18, ‘Barangsiapa berkata-kata dari dirinya sendiri, ia mencari hormat bagi dirinya sendiri, tetapi barangsiapa mencari hormat bagi Dia yang mengutusnya, ia benar dan tidak ada ketidakbenaran padanya.’ Terjemahan kata “hormat” (Ing. glory ) di atas dalam bahasa Yunani adalah doxa dan bisa diterjemahkan sebagai “dikenal”. Ketika motivasi kita adalah mencari hormat dan popularitas diri, maka kita tidak bisa disebut sebagai utusan Tuhan yang sebenarnya. Kalau kita ingin dipakai Tuhan sebagai nabi, kita harus mempunyai motivasi untuk mencari kehendak Tuhan dan membawa orang kepadaNya, bukan kepada diri kita sendiri.
Untuk membantu orang-orang profetik memiliki sikap seperti itu, nabi yang sesungguhnya biasanya jarang dikenal, sampai mereka meninggal dan tidak menjadi ancaman bagi orang lain. Kebanyakan nabi mengalami aniaya, dakwaan, dan ancaman terus menerus, seperti yang kita lihat pada Yesus. Oleh karena itu penerimaan dan dorongan seorang nabi yang sebenarnya harus datang dari pengenalan akan Tuhan, bukan manusia.
Masalah lain yang terus dihadapi oleh nabi yang benar adalah adanya nabi palsu, di mana orang biasanya menimpakan kesalahan pada semua nabi. Alkitab membenarkan bila kita menguji seseorang yang datang dan menyatakan diri dengan sebutan seperti itu. Kalau kita benar-benar diutus oleh Tuhan, kita pasti tidak perduli dengan ujian itu – bahkan justru menghargainya karena akan menunjukkan bahwa kita memang benar.
Ujian pertama yang saya pakai adalah seperti ini: Apakah orang ini datang dengan wibawa, gaya dan hikmat dari Raja kita? Alkitab menunjukkan bahwa nabi bisa bersikap aneh, tetapi tetap ada wibawa ilahi yang menunjukkan bahwa dia memang utusan yang benar. Memang sulit untuk didefinisikan, tetapi kalau kita belajar untuk mengenali hal itu, maka tidak akan sulit untuk melihatnya.
Tentu saja utusan Raja bukanlah Raja itu sendiri dan kita tidak boleh berharap bahwa mereka adalah orang yang sempurna. Rasul Paulus sendiri berkata kepada orang-orang Galatia bahwa dia tahu kalau dagingnya merupakan cobaan bagi mereka, dan menasehati agar mereka tidak memperdulikan hal itu, dan menerima dia sebagai seorang malaikat, atau utusan Tuhan.
Saya mengenal begitu banyak hamba-hamba Tuhan yang terkenal, dan saya melihat bahwa mereka yang benar-benar murni dan berisi adalah yang paling tidak perduli dengan sebutan dan kehormatan atas diri mereka, tetapi justru yang paling menghormati orang lain, terutama kepada siapa mereka diutus. Mereka benar-benar memperlakukan mempelai Kristus sebagai ratu. Mereka memperlakukan umat Tuhan sebagai bangsawan, dan mereka datang dengan sikap menghormati bukan mencari hormat.
Satu karakteristik dasar dari pesan yang memang datang dari Tuhan kita baca dari Yakobus 3:13-18:, ‘Siapakah di antara kamu yang bijak dan berbudi? Baiklah ia dengan cara hidup yang baik menyatakan perbuatannya oleh hikmat yang lahir dari kelemahlembutan.
Jika kamu menaruh perasaan iri hati dan kamu mementingkan diri sendiri, janganlah kamu memegahkan diri dan janganlah berdusta melawan kebenaran!
Itu bukanlah hikmat yang datang dari atas, tetapi dari dunia, dari nafsu manusia, dari setan-setan.
Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.
Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik.
Dan buah yang terdiri dari kebenaran ditaburkan dalam damai untuk mereka yang mengadakan damai.’ Kita lihat di atas bahwa mencari popularitas diri atau “pementingan diri sendiri” merupakan pintu yang terbuka bagi “segala macam perbuatan jahat”. Benih atau firman yang berasal dari “buah kebenaran” haruslah murni, damai, penuh belas kasih, dan tidak memihak serta tidak munafik. Dengan itulah kita menimbang apakah pesan dan penyampai pesan tersebut benar atau tidak.
Bagian – 9
Alam merupakan sebuah media di mana Tuhan berbicara kepada kita. “Alam adalah buku Tuhan yang kedua” – inilah pada dasarnya yang dikatakan oleh Rasul Paulus di kitab Roma 1 dan juga dinyatakan dalam Mazmur 19. Seperti tertulis di Kolose 1, Yohanes 1, dan berbagai kitab lain, segala sesuatu diciptakan melalui Yesus dan bagi Dia, dan semua berbicara tentang Dia. Saya sangat percaya bahwa segala sesuatu di alam berbicara tentang Yesus, satu-satunya Anak, dan kesayangan hati Bapa, pada kedalaman yang tak terbatas. Karena kita merupakan satu bagian besar dari rencana Bapa untuk AnakNya, kita juga bisa melihat tempat kita di dalam pesan penciptaan.
Kunci untuk membuka pesan pada segala sesuatu adalah Yesus. Dia adalah segala yang Bapa kasihi, dan segala sesuatu diciptakan melalui dan untuk Dia. Dalam segala yang diciptakan Bapa mencari Sang Anak. Dia mencari AnakNya di dalam kita. Efesus 1:9-10 berkata, “Sebab Ia telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita, sesuai dengan rencana kerelaan-Nya, yaitu rencana kerelaan yang dari semula telah ditetapkan-Nya di dalam Kristus sebagai persiapan kegenapan waktu untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di sorga maupun yang di bumi.” Karena tujuan utama Tuhan adalah untuk mempersatukan segala sesuatu di dalam AnakNya, sedangkan panggilan dasar kita adalah untuk bertumbuh dalam segala hal ke arah Dia, melihat Sang Anak merupakan hal yang dasar untuk mengerti apa yang sedang dikerjakan Bapa. Yesus adalah komunikasi dasar dari Tuhan, karena itu Dia disebut “Firman” Tuhan dalam pasal pertama injil Yohanes.
Karena ada kunci-kunci dasar dalam mempelajari bahasa, Yesus merupakan kunci dasar untuk mengerti bahasa Allah. Kalau engkau ingin mengerti apa yang dikatakan Tuhan melalui suatu keadaan, lihatlah dari sudut pandang Roh Kudus yang ingin menampilkan Sang Anak dalam dirimu, dan itu biasanya menjadi sangat jelas. Firman Tuhan berkata, “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” (Roma 8:28). Hal terbaik yang bisa datang atas kita adalah melihat kemuliaanNya dan diubahkan menjadi serupa dengan Dia. Mulailah mencari Dia dalam segala hal.
Saya suka membaca penemuan-penemuan dalam ilmu fisika dan astronomi karena Mazmur 19 itu benar – langit menyatakan kemuliaanNya! Seseorang pernah berkata bahwa hal terburuk yang dialami oleh seorang ateis adalah melihat keindahan matahari terbenam tanpa bisa mengucap syukur. Bagaimana kita bisa melihat kagum pada kemuliaan suatu ciptaan tanpa mengagungkan sang Pencipta? Elizabeth Barrett Browning pernah berkata, “Bumi penuh sesak dengan surga, dan setiap semak menyala dengan Tuhan; tetapi hanya mereka yang melihatnya melepaskan kasut. Yang lain hanya duduk di sekelilingnya dan memetik buah berry.” Karena itu kita mau melihat bukan hanya dengan mata alami, tetapi juga dengan mata spiritual. Inilah yang didoakan oleh rasul Paulus dalam kitab Efesus 1, agar “mata hati kita dibuka”.
Newton mendapat predikat sebagai “bapak fisika moderen”, dan dia adalah seorang Kristen yang penuh gairah dan selalu mencari Kristus dalam setiap ciptaan. Newton juga percaya pada apa yang sekarang disebut sebagai “Kode Alkitab”. Bertahun-tahun dia menyelidiki hal ini. Kode Alkitab itu memang ada, tetapi terlalu pelik untuk bisa ditemukan tanpa bantuan komputer, sedangkan Tuhan ingin menyimpannya sampai akhir jaman. Masalahnya bukanlah apakah engkau percaya pada kode Alkitab atau tidak. Newton melihat suatu simetri dan presisi matematis dalam ciptaan sehingga dia percaya bahwa itu juga ada di dalam Alkitab, pada lapisan kedalaman arti dan tujuan. Ini karena pada jamannya mereka baru saja menemukan melalui mikroskop yang tidak terlalu canggih, bahwa ada blok-blok bangunan begitu banyak pada ciptaan, yang tidak mereka ketahui sebelumnya. Memang tidak mudah untuk dijelaskan, tetapi ada kemungkinan bahwa Newton telah “melihat dalam cermin gambaran samar-samar” (1 Kor 13:12) hal-hal seperti gen dan DNA.
Ide Newton tentang Kode Alkitab tidak muncul hanya dari penelitiannya terhadap ciptaan saja, tetapi juga dari beberapa teman-teman Rabbi yang telah percaya pada adanya Kode Alkitab selama beberapa generasi. Kode Alkitab tidaklah diperlukan untuk iman orang yang memiliki Roh Kudus. Tetapi eksistensinya merupakan suatu kesaksian betapa dalam dan ruwetnya komunikasi Tuhan dengan umatNya, juga betapa dahsyatnya keteraturan yang Dia tetapkan dalam segala hal. Mungkin kita melihat banyak situasi dan kejadian yang begitu saja kita jumpai, tetapi itu hanyalah sejauh yang bisa ditangkap oleh manusia. Dalam ciptaan ada suatu keteraturan dan tujuan yang lebih dalam, lebih tinggi, lebih jauh, dan lebih luas dari yang bisa dijangkau oleh pikiran manusia.
Einstein juga melihat adanya suatu hubungan yang dalam di dalam seluruh ciptaan yang dia sebut sebagai “Alasan yang memanifestasikan diri di alam”. Alasan ini adalah Kristus, melalui Siapa dan untuk Siapa segala sesuatu diciptakan. Karena itulah segala sesuatu dipersatukan oleh kuasa Firman (Kristus). Segala sesuatu bukanlah Tuhan, seperti yang dipercayai oleh kaum pantheist. Tetapi Dia sebenarnya ada di dalam segala sesuatu dan mempersatukan seluruh alam semesta. Rasul Paulus menyatakannya sebagai berikut, “Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada,” Kolose 1:27 mengatakan, “Kristus ada di tengah-tengah kamu (di dalam kamu), Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan!” Kadang-kadang lebih mudah bagi kita untuk melihat Kristus di alam daripada dalam diri kita. Ingatlah, kita adalah baitNya! Karena itu Dia berbicara kepada kita dari dalam, dan kita perlu mengenali suaraNya ketika Dia berbicara. Dia juga berbicara kepada kita melalui umatNya, dan kita perlu bisa menangkap suaraNya. Sekali lagi, ini bukanlah suatu pelajaran untuk mengenal firman Tuhan saja, melainkan juga mengenal Firman itu Sendiri. Ketika kita mengenal Dia, kita akan mengenali suaraNya kapan saja, dan melalui siapapun yang Dia pakai untuk berbicara.
SIAP – 10
Kita membaca dari kitab Wahyu 2:20 bahwa Izebel “menyebut dirinya nabiah”. Kita harus waspada pada mereka yang kehidupan spiritualnya begitu kecil sehingga harus mempromosikan diri sedemikian rupa dan memakai sebutan hebat agar dikenal orang. Saya mendapat kesempatan untuk mengenal beberapa orang yang benar-benar berjalan dalam pelayanan profetik yang murni dan tidak seorangpun dari mereka ini yang perduli apakah orang mengenal mereka sebagai nabi. Leonard Ravenhill pernah berkata kepada saya, “Engkau tidak perlu mengiklankan api.” Kalau engkau benar-benar memiliki sesuatu, engkau tidak perlu mempromosikan diri. Yesus berkata dalam Yohanes 7:18, ‘Barangsiapa berkata-kata dari dirinya sendiri, ia mencari hormat bagi dirinya sendiri, tetapi barangsiapa mencari hormat bagi Dia yang mengutusnya, ia benar dan tidak ada ketidakbenaran padanya.’ Terjemahan kata “hormat” (Ing. glory ) di atas dalam bahasa Yunani adalah doxa dan bisa diterjemahkan sebagai “dikenal”. Ketika motivasi kita adalah mencari hormat dan popularitas diri, maka kita tidak bisa disebut sebagai utusan Tuhan yang sebenarnya. Kalau kita ingin dipakai Tuhan sebagai nabi, kita harus mempunyai motivasi untuk mencari kehendak Tuhan dan membawa orang kepadaNya, bukan kepada diri kita sendiri.
Untuk membantu orang-orang profetik memiliki sikap seperti itu, nabi yang sesungguhnya biasanya jarang dikenal, sampai mereka meninggal dan tidak menjadi ancaman bagi orang lain. Kebanyakan nabi mengalami aniaya, dakwaan, dan ancaman terus menerus, seperti yang kita lihat pada Yesus. Oleh karena itu penerimaan dan dorongan seorang nabi yang sebenarnya harus datang dari pengenalan akan Tuhan, bukan manusia.
Masalah lain yang terus dihadapi oleh nabi yang benar adalah adanya nabi palsu, di mana orang biasanya menimpakan kesalahan pada semua nabi. Alkitab membenarkan bila kita menguji seseorang yang datang dan menyatakan diri dengan sebutan seperti itu. Kalau kita benar-benar diutus oleh Tuhan, kita pasti tidak perduli dengan ujian itu – bahkan justru menghargainya karena akan menunjukkan bahwa kita memang benar.
Ujian pertama yang saya pakai adalah seperti ini: Apakah orang ini datang dengan wibawa, gaya dan hikmat dari Raja kita? Alkitab menunjukkan bahwa nabi bisa bersikap aneh, tetapi tetap ada wibawa ilahi yang menunjukkan bahwa dia memang utusan yang benar. Memang sulit untuk didefinisikan, tetapi kalau kita belajar untuk mengenali hal itu, maka tidak akan sulit untuk melihatnya.
Tentu saja utusan Raja bukanlah Raja itu sendiri dan kita tidak boleh berharap bahwa mereka adalah orang yang sempurna. Rasul Paulus sendiri berkata kepada orang-orang Galatia bahwa dia tahu kalau dagingnya merupakan cobaan bagi mereka, dan menasehati agar mereka tidak memperdulikan hal itu, dan menerima dia sebagai seorang malaikat, atau utusan Tuhan.
Saya mengenal begitu banyak hamba-hamba Tuhan yang terkenal, dan saya melihat bahwa mereka yang benar-benar murni dan berisi adalah yang paling tidak perduli dengan sebutan dan kehormatan atas diri mereka, tetapi justru yang paling menghormati orang lain, terutama kepada siapa mereka diutus. Mereka benar-benar memperlakukan mempelai Kristus sebagai ratu. Mereka memperlakukan umat Tuhan sebagai bangsawan, dan mereka datang dengan sikap menghormati bukan mencari hormat.
Satu karakteristik dasar dari pesan yang memang datang dari Tuhan kita baca dari Yakobus 3:13-18:, ‘Siapakah di antara kamu yang bijak dan berbudi? Baiklah ia dengan cara hidup yang baik menyatakan perbuatannya oleh hikmat yang lahir dari kelemahlembutan.
Jika kamu menaruh perasaan iri hati dan kamu mementingkan diri sendiri, janganlah kamu memegahkan diri dan janganlah berdusta melawan kebenaran!
Itu bukanlah hikmat yang datang dari atas, tetapi dari dunia, dari nafsu manusia, dari setan-setan.
Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.
Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik.
Dan buah yang terdiri dari kebenaran ditaburkan dalam damai untuk mereka yang mengadakan damai.’ Kita lihat di atas bahwa mencari popularitas diri atau “pementingan diri sendiri” merupakan pintu yang terbuka bagi “segala macam perbuatan jahat”. Benih atau firman yang berasal dari “buah kebenaran” haruslah murni, damai, penuh belas kasih, dan tidak memihak serta tidak munafik. Dengan itulah kita menimbang apakah pesan dan penyampai pesan tersebut benar atau tidak.
Selasa, 30 Maret 2010
PS-001-Kemakmuran Jiwa
PS-001-Kemakmuran (Prosperity) Jiwa-----Home---Artikel
oleh Paul Scanlon
Saudaraku yang kekasih, aku berdoa, semoga engkau baik-baik dan sehat-sehat saja dalam segala sesuatu, sama seperti jiwamu baik-baik saja. (3 Yohanes 2)
Yohanes menunjukkan apa yang oleh kebanyakan orang dianggap sebagai rantai yang hilang antara kemakmuran-eksternal dan kemakmuran-internal.
Yohanes menyatakan bahwa Allah ingin hidup kita makmur – tetapi hanya setelah jiwa kita makmur. Semua kemakmuran-eksternal harus berakar pada jiwa yang kuat, sehat, dan makmur. Jika tidak, celah yang ada antara apa yang kita miliki dengan siapa kita yang sesungguhnya bisa menjatuhkan kita. Penulis Amsal menulis, ‘Milik yang diperoleh dengan cepat pada mulanya, akhirnya tidak diberkati.’ Mengapa? Karena jika kemakmuran-eksternal mendadak menemukan jiwa internal yang miskin, celah yang terjadi sangat berbahaya. Para pemenang lotere berkata ‘Kalau memang menjadi seperti ini, sebaiknya tidak usah menang.’ Mereka memang memerlukan uang, tetapi jangan disertai masalah besar yang ditimbulkannya, baik secara internal, mentalitas, emosi, dan bahkan fisik.
Apa Jiwa itu?
Jiwa terdiri dari pikiran, emosi, dan kehendak; bagaimana kita berpikir, bagaimana perasaan kita, dan bagaimana kita memilih. Jiwa merupakan medan pertempuran utama dalam hidup kita; pertempuran yang tidak pernah berhenti, yang terjadi dalam pikiran, perasaan, dan pilihan-pilihan kita. Petrus mengatakan, ‘Saudara-saudaraku yang kekasih, aku menasihati kamu, supaya sebagai pendatang dan perantau, kamu menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging yang berjuang melawan jiwa.’ Ada peperangan atas jiwa kita. Adanya jutaan korban yang diakibatkannya serta kematian yang terjadi di dalam gereja menunjukkan bahwa kita, dan gereja, belum memenangkan pertempuran ini. Berjuta-juta umat percaya lari dari pertandingan ini karena saat pertemmpuran sampai ke jiwa mereka, mereka tidak cukup kekuatan internalnya untuk bertahan. Banyak dari umat percaya tersebut sebagian besar orang Kristen kharismatik, yang berbahasa lidah, dan pribadi-pribadi berkarunia di gereja. Kita juga menyaksikan dan terkejut akan kejatuhan hamba-hamba Tuhan terkenal, dan bertanya-tanya, bagaimana mungkin mereka bisa jatuh. Kenyataannya adalah, hampir semua masalah, tantangan, dan pencobaan kita itu bukan masalah rohani, tetapi masalah mental dan emosi, yaitu permasalahan jiwa.
Kita adalah roh, jiwa, dan tubuh
Makhluk hidup itu terdiri dari tiga bagian: roh, jiwa, dan tubuh. Jika kita tidak memahami bagaimana ketiga bagian ini bekerja sama dalam diri kita, kita akan mudah dikalahkan. ‘Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua mana pun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.’
Banyak dari kita yang tumbuh di gereja dimana Firman Allah tidak diterapkan dengan bijaksana. Kita tidak diajar membedakan antara roh, jiwa, dan tubuh, maupun bagaimana kita bisa mengasihi dan melayani Tuhan secara utuh, serentak ketiga bagian manusia kita: roh, jiwa, dan tubuh melakukannya. Pengajaran yang tidak seimbang ini akan menghasilkan orang-orang yang hanya memberi penekanan pada yang rohani dan menganggap segala sesuatu sebagai masalah rohani. Dengan demikian, jika ada kesulitan, mereka secara akan lari ke hal-hal yang rohani. Jika masalah yang dihadapi terus meningkat, mereka cenderung mencari dukungan rohani dalam bentuk penumpangan tangan, pelepasan, penyembuhan, nubuatan, pengurapan – atau semuanya! Tidak ada yang memberitahu bahwa masalahnya itu bukan rohani tetapi jiwani. Dan yang mereka perlukan bukan ‘pelepasan’ dari roh jahat tetapi ‘pelepasan’ dari cara berpikir dan perasaan yang salah, sehingga mengambil keputusan yang salah, dan kemiskinan jiwanya tetap menyengkeram hidupnya.
Iblis sangat memahami bagaimana manusia itu dibangun. Itulah sebabnya mengapa serangan yang dilakukan Iblis kepada manusia pertama ditujukan langsung ke jiwanya. ‘Tentulah Allah berfirman’ adalah usaha yang dilakukannya untuk menarik Hawa memasuki jebakan permainan-pikiran, yang dia tahu kalau berhasil akan menjatuhkan rohani Hawa. Setan tidak langsung menyerang roh kita. Dia tahu, sebagai umat percaya, roh kita tidak bisa dia sentuh lagi karena telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana. Dia tidak akan membuang-buang waktu mencoba merusak apa yang dia tahu tidak bisa dirusak. Jiwa kita sesungguhnya tempat yang ideal untuk diserang, dan dia mendekatinya dengan segala cara melalui pencobaan, saran-saran, dan pilihan-pilihan. Dia tahu tidak bisa menyimpangkan kita dari tujuan sorgawi kita, karena sudah terlambat. Tetapi dia bisa mensabotase destiny dunia kita. Dia tidak bisa memisahkan kita dari Kristus, tetapi dia bisa memisahkan kita agar tidak melayani tujuan Kristus di generasi kita. Pertempuran dalam kehidupan kita adalah pertempuran menang atau kalah, di arena jiwa kita, arena pikiran, kasih, dan pilihan.
Kelambanan Jiwa
Seseorang pernah mengatakan iblis itu tidak peduli dimana pun kita berada. Kita tidak harus meninggalkan Allah, atau meninggalkan Gereja, agar dia bisa mengalahkan kita. Untuk mengalahkan kita iblis cukup membuat jiwa kita tidak bertumbuh. Terlalu banyak umat percaya yang ada di gereja setiap minggu, dan punya hati yang baik, tetapi tidak bertumbuh. Jika kita gagal berurusan dengan jiwa dan menganggap segalanya adalah masalah rohani, kita akan melahirkan orang-orang Kristen yang ‘super-rohani’ tetapi dengan jiwa yang lamban, yang tertinggal jauh dari rohnya, sehingga tidak akan mampu mengejarnya lagi. Kita akan menghasilkan gereja yang dalam rohnya berkata ‘kita sedang mengambil kota’ tetapi tidak cukup punya kemampuan untuk melakukannya, karena jiwa yang lemah.
Mungkin saja ada beberapa dari kita yang pernah berjanji dengan gembala atau pemimpin gereja untuk melakukan sesuatu, tetapi karena jiwanya tidak berkembang cukup, janjinya tidak terlaksana. Ini bukan karena tidak jujur, tetapi karena roh ingin melakukan banyak hal tetapi jiwa tidak siap untuk itu. Jangan membiarkan roh kita melangkah ke sesuatu yang jiwa kita belum mampu. Kita tidak bisa pergi kemana-mana, atau ke destini kita, jika kita tidak pergi secara utuh, baik roh, jiwa, dan tubuh kita.
Segala sesuatu yang sudah disepakati oleh roh bisa dibatalkan oleh jiwa, sebab apapun yang roh perintahkan, jiwalah yang harus membayar harganya. Jika roh kita terus memerintahkan sesuatu yang jiwa kita tidak mampu melakukannya, kita akan menghadapi masalah. Kita harus meningkatkan kemakmuran jiwa kita ke suatu tingkatan sehingga mampu membayar apapun yang roh perintahkan. Iblis tidak peduli akan gereja yang menekankan pada hal-hal yang rohani, karena dia tahu, untuk menyelesaikan sesuatu itu tergantung pada jiwa. Kalau gereja itu tidak bisa menyelesaikan sesuatu berarti gereja itu tidak bisa dipercaya. Dan ini merupakan kutukan dalam kehidupan gereja sebab gereja bukannya memakmurkan jiwa mereka yang ada di dalamnya tetapi justru terjadi penghancuran jiwa mereka. Mengapa orang-orang yang tidak bisa dipercaya tetap melayani tetapi yang pada akhirnya menyerah untuk menyelesaikan suatu tugas rohani? Teriakan terus-menerus terdengar untuk masalah ini ‘beri saya seseorang yang bisa dipercaya, tidak usah terlalu dalam, tidak usah terlalu berkarunia, tidak usah dipenuhi roh maupun diurapi, tetapi yang hanya cukup bisa dipercaya, seseorang yang mau tampil apa adanya untuk menyelesaikan sesuatu!’
Warung Kopi
Di bulan Februari 2003 kami membuka warung kopi gaya Starbucks di gereja. Tersedia total 300 tempat duduk baik di dalam maupun di luar ruangan. Ini menambah dimensi baru dalam kwalitas bagi kami, yang lebih penting pengunjung kami, pengalaman bergereja. Tempat itu selalu penuh dan penuh dengan kehidupan. Tempat itu dibuka tiga kali seminggu plus kalau ada acara-acara khusus seperti seminar-seminar. Membutuhkan staff sampai 60 orang. Sesuatu yang besar punya hal ini, tetapi menyedot jiwa sampai ke batasnya komitmennya, bisa dipercaya dan setia. Ini bukan komplain; saya tidak pernah mengkritik hati pelayanan gereja, sungguh-sungguh luar biasa. Tetapi ini bukan masalah hati, ini masalah jiwa.
Inisiatif semacam ini bagi saya menyoroti prinsip pertumbuhan gereja: saya tidak akan bisa membawa gereja dalam roh menuju ke suatu tempat yang jiwa kita tidak ikut serta. Apapun yang kita impikan dalam roh harus juga memperhatikan jiwa kita. Kita harus mendanai, menyusun staff, menjalankannya dan mempertahankannya, yang semuanya bukan dengan ‘bim-salabim’! Masalah khusus yang kami hadapi dengan warung kopi tersebut ialah kami mempekerjakan hampir semua anak-anak muda gereja. Saya percaya akan promosi dan pemberdayaan anak-anak muda. Meskipun anak-anak muda punya kelemahan jiwa yang dikenal dengan tidak-bisa-dipercaya, berdisiplin lemah, dan kurang percaya-diri. Kami telah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk menumbuhkan anak-anak muda kami secara utuh, dan ujiannya adalah saat mereka melayani di warung kopi tersebut!
Untuk menjadi gereja yang besar kita harus mengembangkan jiwa yang makmur. Roh selalu menurut, tetapi daging seringkali terlalu lemah untuk menerjemahkan keinginan menjadi tindakan yang dibutuhkan. Jika ide warung kopi bisa mengalahkan jiwa kita maka kita harus menangguhkan ide-ide yang besar sampai kita sudah menumbuhkan jiwa gereja yang besar secara bersama-sama. Kita tidak akan memperoleh apa yang hanya kita doakan, kita akan mendapatkan apa yang kita doakan dan kita kerjakan. Kita tidak akan bisa menjagai apa yang kita kerjakan jika kita tidak menjadi lebih besar dari itu. Jika jiwa kita tidak lebih besar dari sesuatu yang kita kejar maka kita yang akan dikejar. Sebagai gereja kita telah memutuskan tidak akan hidup di bawah jiwa yang lemah, tetapi kita akan hidup untuk destini rohani, dan untuk itu membutuhkan jiwa dan tubuh kita secara bersama-sama untuk mencapainya.
Penyeberangan
Tahun 1997 gereja kami mulai suatu perjalanan yang kami kenal sebagai periode ‘Penyeberangan’. Itu seperti Yosua menyeberang Yordan, untuk mendirikan gereja baru yang seperti sekarang ini. Buku saya Crossing Over mencatat pengalaman transisi kami dari tempat yang aman, nyaman, gereja klas menengah, menjadi pusat pelayanan masyarakat, yang saat ini mencapai 10.000 – 20.000 orang yang tidak bergereja melalui inisiatif penjangkauan wilayah kota.
Penyeberangan membawa gereja sampai ke batas kapasitas jiwa kami. Kita diregang secara mental, emosi, dan fisik tanpa henti selama hampir dua tahun. Beberapa pemimpin mengalami sakit kepala, masalah pencernakan, kulit terkelupas, syaraf, dan banyak pengobatan ringan. Ini semua sebagai reaksi fisik terhadap tekanan jiwa yang dimulai oleh keputusan rohani untuk menyeberangkan gereja. Berbicara itu gampang, tetapi untuk melakukan itu tidak murah. Penyeberangan ini mengajar kami lebih untuk menyadari bahwa kita adalah roh, jiwa, dan tubuh, dan sampai ketiganya bisa bergerak bersam-sama, tidak satu pun yang bisa dicapai. Sekarang banyak orang yang menanyakan kepada kami tentang menyeberangkan gereja dan kami memberi nasihat agar mereka mempersiapkan diri dengan hal yang terbesar, baik dalam mental, emosi, dan peperangan, untuk mengambil keputusan dalam hidup dan menyelesaikannya.
Memangkan Jiwa
‘Memenangkan jiwa itu bijak.’ Begitu kita memahami apa jiwa itu, ayat ini, yang tadinya secara tradisi tidak kita anggap alkitabiah, menjadi punya arti yang lebih menyeluruh. Amsal tidak mengatakan ‘memenangkan orang itu bijak,’ tetapi adalah bijak mereka yang memenangkan mental, emosi, dan cara pengambilan keputusan seseorang. Saya percaya yang penulis maksudkan ialah dengan memenangkan jiwa seseorang, kita akan menyingkirkan penghalang apapun yang dia hadapi. Banyak orang di dunia bisnis, politik, dan media yang menjadi pemenang jiwa.
Saat kami membangun gereja, kami tahu bagaimana menjangkau mereka yang tidak bergereja secara mental, menggerakkan mereka secara emosional, dan mempengaruhi pengambilan keputusan mereka, kemudian kami membangun rumah-rumah bijak. Kami tidak perlu bersandar pada Roh Kudus agar menyapu orang-orang, atau menunggu kebangunan rohani besar yang melanda dan menyelamatkan kota-kota kami, tetapi kami mempercayai kemampuan gereja kami untuk memenangkan orang, pertama-tama bagi kami sendiri, dan kemudian kemungkinan bagi Yesus. Tidak ada jaminan bahwa mereka yang jiwanya sudah dimenangkan akan datang kepada Yesus, tetapi tentunya dengan memenangkan jiwa mereka akan memampukan untuk menyingkirkan banyak penghalang yang bisa mereka lakukan.
Di kebaktian wisuda mahasiswa Leadership Academy kami, banyak teman-teman mereka yang belum diselamatkan dan keluarga-keluarga datang ke gereja untuk pertama kalinya. Beberapa mahasiswa sedikit gugup memikirkan apa reaksi mereka terhadap gereja. Tetapi di akhir kebaktian mereka semua bersukacita. Beberapa dari keluarga mereka berkata seperti, ‘kami tidak tahu kalau gereja itu menyenangkan!’ Yang lainnya mengatakan, ‘kami terus menikmatinya.’ Yang lain mengatakan, ‘kami merasa seperti menangis; kami mau datang kembali’ Itu yang saya sebut memangkan jiwa. Dalam satu kebaktian pengalaman gereja pertama mereka kami terhubung dengan secara mental, menggerakkan mereka secara emosional, dan mempengaruhi mereka untuk bisa mengambil keputusan datang kepada kami. Saya tidak tahu mungkin ada di antara mereka yang akan diselamatkan, tetapi banyak dari mereka yang penghalang-penghalang untuk memperoleh keselamatannya sudah disingkirkan. Jiwa korporat kami memenangkan jiwa mereka.
Gembala Jiwamu
‘TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku.’ Di Mazmur ini Daud menyingkapkan penemuan yang dia peroleh: Allah itu bukan hanya penyelamat roh tetapi dia gembala dan pemulih jiwa juga. Allah selalu mendekati jiwa melalui roh, sementara iblis selalu mendekati jiwa melalui tubuh dan pancaindera. Itulah sebabnya penting bagi kita untuk belajar hidup dari roh bukan dari indera kita.
Kalau kita hidup dari jiwa, hidup kita seperti lotere, karena jiwa itu hanya sebaik makanan yang diberikan – makanan dari roh atau dari daging. Jika jiwa diberi makan sampah, dan bukannya makanan yang mulia, saat datang api krisis, jiwa akan menyiram kita dengan bensin, bukannya air. Jiwamu itu muara rohmu, jadi jangan hidup dari apapun yang dikelola oleh pikiran. Hidup dari sumber rohmu dan ambil kuasa untuk mengatur apapun yang datang dari muara.
Air yang jernih dan tenang yang berasal dari roh kita akan mempunyai pengaruh pemulihan terhadap jiwa kita. Seperti yang Daud catat lebih lanjut di Mazmur 23, jiwa yang dipulihkan itu ‘tidak takut yang jahat’ dan tidak punya rasa takut untuk menciptakan cara pandang baru dimana dia melihat ‘hidangan’ kesempatan yang disediakan dan bukannya melihat musuh yang ditakutkan. Kestabilan jiwa ini akan membawa ke keselarasan-roh kita dan memampukan kita melewati dan menyelesaikan semua yang ditaruh di dalam hati kita. Pemulihan jiwa menutup celah antara apa yang kita lihat dengan roh kita, dan apa yang kita sesungguhnya bisa capai dengan kerjasama jiwa.
Semakin kita memahami bagaimana kita dibangun, kita akan menjadi semakin baik. Paulus saat menulis ke jemaat Tesalonika mengungkapkan kerinduannya untuk melihat mereka bertumbuh dewasa secara utuh dalam roh, jiwa, dan tubuh. Dia tahu bahwa tanpa kesepakatan antara roh, jiwa, dan tubuh hasilnya tidak akan efektif dan akan menjadi kehidupan yang membuat frustrasi. Tetapi dengan adanya keselarasan internal antara roh, jiwa, dan tubuh akan menghasilkan jiwa yang makmur yang akan mampu mencapai hal-hal luar biasa.
Mari kita komit untuk memasuki proses memakmurkan roh, jiwa, dan tubuh. Mari kita belajar untuk mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, pikiran dan kekuatan kita. Mengasihi Allah dengan keseluruhan hidup kita, bukan hanya sebagian saja. Kasihi Dia dengan pikiran, kasihi Dia dengan perasaan kita, kasihi Dia dengan pilihan-pilihan kita dan kasihi Dia dengan tubuh kita.
Dua-pertiga dari diri kita akan Hidup Selamanya
Meskipun kita terbuat dari tiga bagian, roh, jiwa, dan tubuh, tetapi hanya yang dua bagian saja yang akan hidup selamanya. Jadi semakin cepat kita mulai membuatnya benar akan semakin baik. Di suatu hari kita akan menerima tubuh baru, tetapi tidak pernah menerima roh baru atau jiwa baru. Kita akan selalu kita. Jadi, jika yang kita lakukan hanya memperhatikan kepada apa yang ‘kita’ lihat, tubuh kita, tetapi mengabaikan dua-pertiga ‘kita’ yang tidak kita lihat, maka bagian besar yang kita abaikan itu akan menenggelamkan kita seperti adanya gunung es di tengah lautan.
Perhatikan dan lakukan dengan bagian kekal diri kita tersebut, sebab berbeda dengan mitos umum, sorga itu tidak akan mengubahmu menjadi orang kudus yang super. Kita akan memasuki sorga dengan diri yang sama seperti saat kita meninggalkan dunia dan diri kita itulah yang akan diperhitungkan, baik untuk memperoleh upah atau pun untuk mendapatkan penderitaan dan hilang, bagi jiwa yang malas sewaktu di dunia. Ini juga jelas seperti yang dinyatakan dalam perumpamaan Kerajaan Allah, kisah tentang talenta, dan kisah tentang berjaa-jaga.
Jadi, mari kita bangun hidup dan gereja kita dengan jiwa yang makmur. Mari mulai memakai waktu kita lebih banyak lagi untuk manusia-dalam kita daripada manusia-luar karena, ‘Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang.’
Amsal 20:21, 1 Petrus 2:11, Ibrani 4:12, Kejadian 3:1, 1 Petrus 1:23, Matius 26:41, Amsal 11:30,
Mazmur 23:1-3, 23:5, 1 Tesalonika 5:23, 1 Korintus15:42-49, 2 Korintus 5:10, 1 Korintus 3:11-15,
Matius 13, Matius 25:14, Matius 24:45, 1 Timotius 4:8
oleh Paul Scanlon
Saudaraku yang kekasih, aku berdoa, semoga engkau baik-baik dan sehat-sehat saja dalam segala sesuatu, sama seperti jiwamu baik-baik saja. (3 Yohanes 2)
Yohanes menunjukkan apa yang oleh kebanyakan orang dianggap sebagai rantai yang hilang antara kemakmuran-eksternal dan kemakmuran-internal.
Yohanes menyatakan bahwa Allah ingin hidup kita makmur – tetapi hanya setelah jiwa kita makmur. Semua kemakmuran-eksternal harus berakar pada jiwa yang kuat, sehat, dan makmur. Jika tidak, celah yang ada antara apa yang kita miliki dengan siapa kita yang sesungguhnya bisa menjatuhkan kita. Penulis Amsal menulis, ‘Milik yang diperoleh dengan cepat pada mulanya, akhirnya tidak diberkati.’ Mengapa? Karena jika kemakmuran-eksternal mendadak menemukan jiwa internal yang miskin, celah yang terjadi sangat berbahaya. Para pemenang lotere berkata ‘Kalau memang menjadi seperti ini, sebaiknya tidak usah menang.’ Mereka memang memerlukan uang, tetapi jangan disertai masalah besar yang ditimbulkannya, baik secara internal, mentalitas, emosi, dan bahkan fisik.
Apa Jiwa itu?
Jiwa terdiri dari pikiran, emosi, dan kehendak; bagaimana kita berpikir, bagaimana perasaan kita, dan bagaimana kita memilih. Jiwa merupakan medan pertempuran utama dalam hidup kita; pertempuran yang tidak pernah berhenti, yang terjadi dalam pikiran, perasaan, dan pilihan-pilihan kita. Petrus mengatakan, ‘Saudara-saudaraku yang kekasih, aku menasihati kamu, supaya sebagai pendatang dan perantau, kamu menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging yang berjuang melawan jiwa.’ Ada peperangan atas jiwa kita. Adanya jutaan korban yang diakibatkannya serta kematian yang terjadi di dalam gereja menunjukkan bahwa kita, dan gereja, belum memenangkan pertempuran ini. Berjuta-juta umat percaya lari dari pertandingan ini karena saat pertemmpuran sampai ke jiwa mereka, mereka tidak cukup kekuatan internalnya untuk bertahan. Banyak dari umat percaya tersebut sebagian besar orang Kristen kharismatik, yang berbahasa lidah, dan pribadi-pribadi berkarunia di gereja. Kita juga menyaksikan dan terkejut akan kejatuhan hamba-hamba Tuhan terkenal, dan bertanya-tanya, bagaimana mungkin mereka bisa jatuh. Kenyataannya adalah, hampir semua masalah, tantangan, dan pencobaan kita itu bukan masalah rohani, tetapi masalah mental dan emosi, yaitu permasalahan jiwa.
Kita adalah roh, jiwa, dan tubuh
Makhluk hidup itu terdiri dari tiga bagian: roh, jiwa, dan tubuh. Jika kita tidak memahami bagaimana ketiga bagian ini bekerja sama dalam diri kita, kita akan mudah dikalahkan. ‘Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua mana pun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.’
Banyak dari kita yang tumbuh di gereja dimana Firman Allah tidak diterapkan dengan bijaksana. Kita tidak diajar membedakan antara roh, jiwa, dan tubuh, maupun bagaimana kita bisa mengasihi dan melayani Tuhan secara utuh, serentak ketiga bagian manusia kita: roh, jiwa, dan tubuh melakukannya. Pengajaran yang tidak seimbang ini akan menghasilkan orang-orang yang hanya memberi penekanan pada yang rohani dan menganggap segala sesuatu sebagai masalah rohani. Dengan demikian, jika ada kesulitan, mereka secara akan lari ke hal-hal yang rohani. Jika masalah yang dihadapi terus meningkat, mereka cenderung mencari dukungan rohani dalam bentuk penumpangan tangan, pelepasan, penyembuhan, nubuatan, pengurapan – atau semuanya! Tidak ada yang memberitahu bahwa masalahnya itu bukan rohani tetapi jiwani. Dan yang mereka perlukan bukan ‘pelepasan’ dari roh jahat tetapi ‘pelepasan’ dari cara berpikir dan perasaan yang salah, sehingga mengambil keputusan yang salah, dan kemiskinan jiwanya tetap menyengkeram hidupnya.
Iblis sangat memahami bagaimana manusia itu dibangun. Itulah sebabnya mengapa serangan yang dilakukan Iblis kepada manusia pertama ditujukan langsung ke jiwanya. ‘Tentulah Allah berfirman’ adalah usaha yang dilakukannya untuk menarik Hawa memasuki jebakan permainan-pikiran, yang dia tahu kalau berhasil akan menjatuhkan rohani Hawa. Setan tidak langsung menyerang roh kita. Dia tahu, sebagai umat percaya, roh kita tidak bisa dia sentuh lagi karena telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana. Dia tidak akan membuang-buang waktu mencoba merusak apa yang dia tahu tidak bisa dirusak. Jiwa kita sesungguhnya tempat yang ideal untuk diserang, dan dia mendekatinya dengan segala cara melalui pencobaan, saran-saran, dan pilihan-pilihan. Dia tahu tidak bisa menyimpangkan kita dari tujuan sorgawi kita, karena sudah terlambat. Tetapi dia bisa mensabotase destiny dunia kita. Dia tidak bisa memisahkan kita dari Kristus, tetapi dia bisa memisahkan kita agar tidak melayani tujuan Kristus di generasi kita. Pertempuran dalam kehidupan kita adalah pertempuran menang atau kalah, di arena jiwa kita, arena pikiran, kasih, dan pilihan.
Kelambanan Jiwa
Seseorang pernah mengatakan iblis itu tidak peduli dimana pun kita berada. Kita tidak harus meninggalkan Allah, atau meninggalkan Gereja, agar dia bisa mengalahkan kita. Untuk mengalahkan kita iblis cukup membuat jiwa kita tidak bertumbuh. Terlalu banyak umat percaya yang ada di gereja setiap minggu, dan punya hati yang baik, tetapi tidak bertumbuh. Jika kita gagal berurusan dengan jiwa dan menganggap segalanya adalah masalah rohani, kita akan melahirkan orang-orang Kristen yang ‘super-rohani’ tetapi dengan jiwa yang lamban, yang tertinggal jauh dari rohnya, sehingga tidak akan mampu mengejarnya lagi. Kita akan menghasilkan gereja yang dalam rohnya berkata ‘kita sedang mengambil kota’ tetapi tidak cukup punya kemampuan untuk melakukannya, karena jiwa yang lemah.
Mungkin saja ada beberapa dari kita yang pernah berjanji dengan gembala atau pemimpin gereja untuk melakukan sesuatu, tetapi karena jiwanya tidak berkembang cukup, janjinya tidak terlaksana. Ini bukan karena tidak jujur, tetapi karena roh ingin melakukan banyak hal tetapi jiwa tidak siap untuk itu. Jangan membiarkan roh kita melangkah ke sesuatu yang jiwa kita belum mampu. Kita tidak bisa pergi kemana-mana, atau ke destini kita, jika kita tidak pergi secara utuh, baik roh, jiwa, dan tubuh kita.
Segala sesuatu yang sudah disepakati oleh roh bisa dibatalkan oleh jiwa, sebab apapun yang roh perintahkan, jiwalah yang harus membayar harganya. Jika roh kita terus memerintahkan sesuatu yang jiwa kita tidak mampu melakukannya, kita akan menghadapi masalah. Kita harus meningkatkan kemakmuran jiwa kita ke suatu tingkatan sehingga mampu membayar apapun yang roh perintahkan. Iblis tidak peduli akan gereja yang menekankan pada hal-hal yang rohani, karena dia tahu, untuk menyelesaikan sesuatu itu tergantung pada jiwa. Kalau gereja itu tidak bisa menyelesaikan sesuatu berarti gereja itu tidak bisa dipercaya. Dan ini merupakan kutukan dalam kehidupan gereja sebab gereja bukannya memakmurkan jiwa mereka yang ada di dalamnya tetapi justru terjadi penghancuran jiwa mereka. Mengapa orang-orang yang tidak bisa dipercaya tetap melayani tetapi yang pada akhirnya menyerah untuk menyelesaikan suatu tugas rohani? Teriakan terus-menerus terdengar untuk masalah ini ‘beri saya seseorang yang bisa dipercaya, tidak usah terlalu dalam, tidak usah terlalu berkarunia, tidak usah dipenuhi roh maupun diurapi, tetapi yang hanya cukup bisa dipercaya, seseorang yang mau tampil apa adanya untuk menyelesaikan sesuatu!’
Warung Kopi
Di bulan Februari 2003 kami membuka warung kopi gaya Starbucks di gereja. Tersedia total 300 tempat duduk baik di dalam maupun di luar ruangan. Ini menambah dimensi baru dalam kwalitas bagi kami, yang lebih penting pengunjung kami, pengalaman bergereja. Tempat itu selalu penuh dan penuh dengan kehidupan. Tempat itu dibuka tiga kali seminggu plus kalau ada acara-acara khusus seperti seminar-seminar. Membutuhkan staff sampai 60 orang. Sesuatu yang besar punya hal ini, tetapi menyedot jiwa sampai ke batasnya komitmennya, bisa dipercaya dan setia. Ini bukan komplain; saya tidak pernah mengkritik hati pelayanan gereja, sungguh-sungguh luar biasa. Tetapi ini bukan masalah hati, ini masalah jiwa.
Inisiatif semacam ini bagi saya menyoroti prinsip pertumbuhan gereja: saya tidak akan bisa membawa gereja dalam roh menuju ke suatu tempat yang jiwa kita tidak ikut serta. Apapun yang kita impikan dalam roh harus juga memperhatikan jiwa kita. Kita harus mendanai, menyusun staff, menjalankannya dan mempertahankannya, yang semuanya bukan dengan ‘bim-salabim’! Masalah khusus yang kami hadapi dengan warung kopi tersebut ialah kami mempekerjakan hampir semua anak-anak muda gereja. Saya percaya akan promosi dan pemberdayaan anak-anak muda. Meskipun anak-anak muda punya kelemahan jiwa yang dikenal dengan tidak-bisa-dipercaya, berdisiplin lemah, dan kurang percaya-diri. Kami telah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk menumbuhkan anak-anak muda kami secara utuh, dan ujiannya adalah saat mereka melayani di warung kopi tersebut!
Untuk menjadi gereja yang besar kita harus mengembangkan jiwa yang makmur. Roh selalu menurut, tetapi daging seringkali terlalu lemah untuk menerjemahkan keinginan menjadi tindakan yang dibutuhkan. Jika ide warung kopi bisa mengalahkan jiwa kita maka kita harus menangguhkan ide-ide yang besar sampai kita sudah menumbuhkan jiwa gereja yang besar secara bersama-sama. Kita tidak akan memperoleh apa yang hanya kita doakan, kita akan mendapatkan apa yang kita doakan dan kita kerjakan. Kita tidak akan bisa menjagai apa yang kita kerjakan jika kita tidak menjadi lebih besar dari itu. Jika jiwa kita tidak lebih besar dari sesuatu yang kita kejar maka kita yang akan dikejar. Sebagai gereja kita telah memutuskan tidak akan hidup di bawah jiwa yang lemah, tetapi kita akan hidup untuk destini rohani, dan untuk itu membutuhkan jiwa dan tubuh kita secara bersama-sama untuk mencapainya.
Penyeberangan
Tahun 1997 gereja kami mulai suatu perjalanan yang kami kenal sebagai periode ‘Penyeberangan’. Itu seperti Yosua menyeberang Yordan, untuk mendirikan gereja baru yang seperti sekarang ini. Buku saya Crossing Over mencatat pengalaman transisi kami dari tempat yang aman, nyaman, gereja klas menengah, menjadi pusat pelayanan masyarakat, yang saat ini mencapai 10.000 – 20.000 orang yang tidak bergereja melalui inisiatif penjangkauan wilayah kota.
Penyeberangan membawa gereja sampai ke batas kapasitas jiwa kami. Kita diregang secara mental, emosi, dan fisik tanpa henti selama hampir dua tahun. Beberapa pemimpin mengalami sakit kepala, masalah pencernakan, kulit terkelupas, syaraf, dan banyak pengobatan ringan. Ini semua sebagai reaksi fisik terhadap tekanan jiwa yang dimulai oleh keputusan rohani untuk menyeberangkan gereja. Berbicara itu gampang, tetapi untuk melakukan itu tidak murah. Penyeberangan ini mengajar kami lebih untuk menyadari bahwa kita adalah roh, jiwa, dan tubuh, dan sampai ketiganya bisa bergerak bersam-sama, tidak satu pun yang bisa dicapai. Sekarang banyak orang yang menanyakan kepada kami tentang menyeberangkan gereja dan kami memberi nasihat agar mereka mempersiapkan diri dengan hal yang terbesar, baik dalam mental, emosi, dan peperangan, untuk mengambil keputusan dalam hidup dan menyelesaikannya.
Memangkan Jiwa
‘Memenangkan jiwa itu bijak.’ Begitu kita memahami apa jiwa itu, ayat ini, yang tadinya secara tradisi tidak kita anggap alkitabiah, menjadi punya arti yang lebih menyeluruh. Amsal tidak mengatakan ‘memenangkan orang itu bijak,’ tetapi adalah bijak mereka yang memenangkan mental, emosi, dan cara pengambilan keputusan seseorang. Saya percaya yang penulis maksudkan ialah dengan memenangkan jiwa seseorang, kita akan menyingkirkan penghalang apapun yang dia hadapi. Banyak orang di dunia bisnis, politik, dan media yang menjadi pemenang jiwa.
Saat kami membangun gereja, kami tahu bagaimana menjangkau mereka yang tidak bergereja secara mental, menggerakkan mereka secara emosional, dan mempengaruhi pengambilan keputusan mereka, kemudian kami membangun rumah-rumah bijak. Kami tidak perlu bersandar pada Roh Kudus agar menyapu orang-orang, atau menunggu kebangunan rohani besar yang melanda dan menyelamatkan kota-kota kami, tetapi kami mempercayai kemampuan gereja kami untuk memenangkan orang, pertama-tama bagi kami sendiri, dan kemudian kemungkinan bagi Yesus. Tidak ada jaminan bahwa mereka yang jiwanya sudah dimenangkan akan datang kepada Yesus, tetapi tentunya dengan memenangkan jiwa mereka akan memampukan untuk menyingkirkan banyak penghalang yang bisa mereka lakukan.
Di kebaktian wisuda mahasiswa Leadership Academy kami, banyak teman-teman mereka yang belum diselamatkan dan keluarga-keluarga datang ke gereja untuk pertama kalinya. Beberapa mahasiswa sedikit gugup memikirkan apa reaksi mereka terhadap gereja. Tetapi di akhir kebaktian mereka semua bersukacita. Beberapa dari keluarga mereka berkata seperti, ‘kami tidak tahu kalau gereja itu menyenangkan!’ Yang lainnya mengatakan, ‘kami terus menikmatinya.’ Yang lain mengatakan, ‘kami merasa seperti menangis; kami mau datang kembali’ Itu yang saya sebut memangkan jiwa. Dalam satu kebaktian pengalaman gereja pertama mereka kami terhubung dengan secara mental, menggerakkan mereka secara emosional, dan mempengaruhi mereka untuk bisa mengambil keputusan datang kepada kami. Saya tidak tahu mungkin ada di antara mereka yang akan diselamatkan, tetapi banyak dari mereka yang penghalang-penghalang untuk memperoleh keselamatannya sudah disingkirkan. Jiwa korporat kami memenangkan jiwa mereka.
Gembala Jiwamu
‘TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku.’ Di Mazmur ini Daud menyingkapkan penemuan yang dia peroleh: Allah itu bukan hanya penyelamat roh tetapi dia gembala dan pemulih jiwa juga. Allah selalu mendekati jiwa melalui roh, sementara iblis selalu mendekati jiwa melalui tubuh dan pancaindera. Itulah sebabnya penting bagi kita untuk belajar hidup dari roh bukan dari indera kita.
Kalau kita hidup dari jiwa, hidup kita seperti lotere, karena jiwa itu hanya sebaik makanan yang diberikan – makanan dari roh atau dari daging. Jika jiwa diberi makan sampah, dan bukannya makanan yang mulia, saat datang api krisis, jiwa akan menyiram kita dengan bensin, bukannya air. Jiwamu itu muara rohmu, jadi jangan hidup dari apapun yang dikelola oleh pikiran. Hidup dari sumber rohmu dan ambil kuasa untuk mengatur apapun yang datang dari muara.
Air yang jernih dan tenang yang berasal dari roh kita akan mempunyai pengaruh pemulihan terhadap jiwa kita. Seperti yang Daud catat lebih lanjut di Mazmur 23, jiwa yang dipulihkan itu ‘tidak takut yang jahat’ dan tidak punya rasa takut untuk menciptakan cara pandang baru dimana dia melihat ‘hidangan’ kesempatan yang disediakan dan bukannya melihat musuh yang ditakutkan. Kestabilan jiwa ini akan membawa ke keselarasan-roh kita dan memampukan kita melewati dan menyelesaikan semua yang ditaruh di dalam hati kita. Pemulihan jiwa menutup celah antara apa yang kita lihat dengan roh kita, dan apa yang kita sesungguhnya bisa capai dengan kerjasama jiwa.
Semakin kita memahami bagaimana kita dibangun, kita akan menjadi semakin baik. Paulus saat menulis ke jemaat Tesalonika mengungkapkan kerinduannya untuk melihat mereka bertumbuh dewasa secara utuh dalam roh, jiwa, dan tubuh. Dia tahu bahwa tanpa kesepakatan antara roh, jiwa, dan tubuh hasilnya tidak akan efektif dan akan menjadi kehidupan yang membuat frustrasi. Tetapi dengan adanya keselarasan internal antara roh, jiwa, dan tubuh akan menghasilkan jiwa yang makmur yang akan mampu mencapai hal-hal luar biasa.
Mari kita komit untuk memasuki proses memakmurkan roh, jiwa, dan tubuh. Mari kita belajar untuk mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, pikiran dan kekuatan kita. Mengasihi Allah dengan keseluruhan hidup kita, bukan hanya sebagian saja. Kasihi Dia dengan pikiran, kasihi Dia dengan perasaan kita, kasihi Dia dengan pilihan-pilihan kita dan kasihi Dia dengan tubuh kita.
Dua-pertiga dari diri kita akan Hidup Selamanya
Meskipun kita terbuat dari tiga bagian, roh, jiwa, dan tubuh, tetapi hanya yang dua bagian saja yang akan hidup selamanya. Jadi semakin cepat kita mulai membuatnya benar akan semakin baik. Di suatu hari kita akan menerima tubuh baru, tetapi tidak pernah menerima roh baru atau jiwa baru. Kita akan selalu kita. Jadi, jika yang kita lakukan hanya memperhatikan kepada apa yang ‘kita’ lihat, tubuh kita, tetapi mengabaikan dua-pertiga ‘kita’ yang tidak kita lihat, maka bagian besar yang kita abaikan itu akan menenggelamkan kita seperti adanya gunung es di tengah lautan.
Perhatikan dan lakukan dengan bagian kekal diri kita tersebut, sebab berbeda dengan mitos umum, sorga itu tidak akan mengubahmu menjadi orang kudus yang super. Kita akan memasuki sorga dengan diri yang sama seperti saat kita meninggalkan dunia dan diri kita itulah yang akan diperhitungkan, baik untuk memperoleh upah atau pun untuk mendapatkan penderitaan dan hilang, bagi jiwa yang malas sewaktu di dunia. Ini juga jelas seperti yang dinyatakan dalam perumpamaan Kerajaan Allah, kisah tentang talenta, dan kisah tentang berjaa-jaga.
Jadi, mari kita bangun hidup dan gereja kita dengan jiwa yang makmur. Mari mulai memakai waktu kita lebih banyak lagi untuk manusia-dalam kita daripada manusia-luar karena, ‘Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang.’
Disadur bebas oleh Iskak Hutomo dari Soul Prosperity oleh Paul Scanlon
Amsal 20:21, 1 Petrus 2:11, Ibrani 4:12, Kejadian 3:1, 1 Petrus 1:23, Matius 26:41, Amsal 11:30,
Mazmur 23:1-3, 23:5, 1 Tesalonika 5:23, 1 Korintus15:42-49, 2 Korintus 5:10, 1 Korintus 3:11-15,
Matius 13, Matius 25:14, Matius 24:45, 1 Timotius 4:8
Sabtu, 27 Maret 2010
MSG-031 Mengapa merayakan Paskah
MENGAPA MERAYAKAN PASKAH?-----Home---Artikel
Chuck D. Pierce & Robert Heidler
Dalam kitab Keluaran 12:13-14 disebutkan, Dan darah itu menjadi tanda bagimu pada rumah-rumah di mana kamu tinggal: Apabila Aku melihat darah itu, maka Aku akan lewat dari pada kamu. Jadi tidak akan ada tulah kemusnahan di tengah-tengah kamu, apabila Aku menghukum tanah Mesir…Hari ini akan menjadi hari peringatan bagimu. Kamu harus merayakannya sebagai hari raya bagi TUHAN turun-temurun. Kamu harus merayakannya sebagai ketetapan untuk selamanya.
Saat kita sedang menantikan hari raya Paskah, kita perlu ingat bahwa Paskah merupakan suatu perayaan yang diciptakan oleh Tuhan. Perayaan ini diberikan untuk meningkatkan iman kita dan mempersiapkan kita menerima kepenuhan berkatNya. Dalam kitab Perjanjian Lama, Paskah diperintahkan oleh Tuhan untuk mengajar bangsa Israel pentingnya penebusan melalui darah. Dalam kitab Perjanjian Baru, Paskah juga dilakukan oleh orang-orang Kristen untuk memperingati dan mengerti pekerjaan penebusan yang telah dilakukan oleh Tuhan. Alkitab menyebutkan bahwa Paskah harus dirayakan sebagai ketetapan untuk selamanya!
Banyak orang Kristen tidak menyadari bahwa Paskah sama pentingnya baik dalam Perjanjian Baru maupun Perjanjian Lama. Perayaan ini kita temukan di setiap bagian dari Perjanjian Baru. Yesus dan para murid merayakan Paskah. Perjamuan Tuhan yang terakhir adalah perayaan Paskah. Para rasul mengajar jemaat-jemaat bukan Yahudi tentang perayaan Paskah. Dalam kitab 1 Korintus Paulus menulis kepada sebuah jemaat besar bukan Yahudi , “Kristus, Anak Domba Paskah KITA, telah disembelih, karena itu mari kita merayakannya!” Selama ratusan tahun Paskah telah menjadi perayaan penting bagi gereja mula-mula.
Mengapa Paskah Begitu Penting?
Derek Prince pernah berkata bahwa deklarasi iman yang paling kuat adalah, “Aku telah ditebus dengan darah Anak Domba dari tangan musuh.” Dia berkata bahwa jika kita menyatakan deklarasi itu dengan iman yang teguh, dan terus melakukannya, maka akan terjadi sesuatu. Kita akan dilepaskan dari tangan musuh! Itulah sebenarnya pesan dari Paskah. Perayaan Paskah adalah deklarasi iman bahwa kita telah ditebus oleh darah Anak Domba! Ada sesuatu yang terjadi ketika kita merayakan Paskah. Ketika kita bersama-sama memperingati pekerjaan besar yang telah Tuhan lakukan, dan menyatakan kuasa penebusan itu dalam hidup kita sekarang ini, akan SELALU menghasilkan sesuatu.
Paskah itu sangat penting bagi Tuhan. Tetapi setan membenci Paskah! Musuh kita telah bekerja dengan rajin untuk mencuri Paskah. Tetapi ada kabar baik, yaitu: Tuhan sedang memulihkan Paskah! Tetapi itu merupakan suatu pertempuran! Pertempuran atas darah. Setan ingin memberi kita agama tanpa darah, karena agama tanpa darah tidak punya kuasa. Kuasa itu ada di dalam darah!
Selalu ada pertempuran untuk Paskah. Kita bisa melihatnya dalam sejarah gereja. Dalam abad ke 4, ketika kaisar Konstantin berusaha untuk menggabungkan kekristenan dengan paganisme, hal itu kedengaran seperti sesuatu yang baik. Dia melegalisasi kekristenan. Orang bisa ke gereja tanpa takut dilempar ke kandang singa.
Dan Konstantin tidak perduli kalau orang Kristen merayakan kebangkitan Yesus. Tetapi dia tidak ingin ada hal yang berkaitan dengan Paskah. Dia minta agar orang-orang Kristen tidak merayakan kebangkitan itu pada waktu Paskah. Pada pertemuan Council of Nicea (AD325) dia berkata, “Ketidak beresan ini (perayaan Paskah) HARUS dibetulkan!”
Pada pertemuan tersebut Konstantin menghapuskan Paskah dan memberi arahan bahwa kematian dan kebangkitan Kristus dirayakan pada “hari Minggu setelah bulan penuh pertama yaitu ketika matahari di atas katulistiwa … waktu yang dikaitkan dengan perayaan musim semi para penyembah berhala dewi kesuburan bernama Ishtar … juga dikenal sebagai Eastre! (Karena itu sekarang gereja merayakan kebangkitan pada waktu Easter, bukan pada saat Paskah). Tujuan Konstantin adalah untuk menyingkirkan Yesus dari konteks Paskah.
Pertempuran Berlanjut
Banyak gereja yang menolak perintah Konstantin, sehingga selama beberapa abad setelah masa Konstantin pertempuran untuk Paskah terus berlanjut. Pada abad keenam, misalnya, Kaisar Justinian mengirim pasukan Romawi ke seluruh wilayah kekaisaran untuk memberlakukan larangan merayakan Paskah. Dalam usaha ini, ribuan pria, wanita dan anak-anak dibunuh! Bahkan ada kota-kota yang mengalami pembunuhan masal untuk menghentikan perayaan Paskah. (Pertempuran untuk Paskah telah membawa banyak korban) Dengan tekanan pemerintah, gereja Roma juga ikut menyingkirkan Paskah. Perhatikan beberapa pernyataan yang dikeluarkan oleh dewan (council) berikut.
Kutukan Dinyatakan
The Council of Antioch (AD 345) menyatakan, “Apabila ada uskup presbiterian atau diaken, setelah pernyataan ini, berani merayakan Paskah, Dewan akan menghakimi mereka sebagai terkutuk dari gereja. Dewan bukan hanya memecat mereka dari pelayanan, tetapi juga pihak-pihak lain yang berani berkomunikasi dengan mereka.” (Gereja sebenarnya mengutuki mereka yang merayakan Paskah).
The Council of Laodicea (AD 365) “Tidak diperbolehkan melakukan perayaan oleh orang-orang Yahudi”.
The Council of Agde, Perancis (506) “Orang Kristen TIDAK BOLEH ambil bagian dalam perayaan orang Yahudi.”
The Council of Toledo X (abad 7) “Easter harus dirayakan sesuai dengan deklarasi yang ditetapkan di Nicea.”
Pertempuran Atas Paskah Terlihat Jelas Selama Sejarah Gereja!
Pertempuran untuk melenyapkan Paskah bukanlah hal yang baru. Kita melihat hal yang sama terjadi dalam Alkitab. Setan selalu berusaha mencuri Paskah karena dia tahu bahwa perayaan darah itu akan melepaskan suatu kuasa! Lihat apa yang terjadi dalam jaman Hizkia, ‘Ia melakukan apa yang benar di mata TUHAN. Ia membuka pintu-pintu rumah TUHAN dan memperbaikinya, menyingkirkan mezbah-mezbah palsu, memulihkan korban persembahan dan puji-pujian Daud. Kemudian Hizkia mengirim pesan ke seluruh Israel dan Yehuda, mengundang mereka datang merayakan Paskah. Para pembawa pesan pergi ke seluruh Israel dan Yehuda: ‘Hai, orang Israel,kembalilah kepada Tuhan.’ Tangan Allah bekerja sehingga mereka bersatu dalam pikiran untuk memenuhi undangan raja. Robongan yang sangat besar berkumpul di Yerusalem untuk mereyakan Perayaan. Mereka menyembelih anak-domba Paskah dan mereyakan Perayaan selama tujuh hari dengan penuh sukacita, sementara setiap hari orang-orang Lewi menaikkan nyanyian kepada Tuhan, disertaui bunyi-bunyian pujian. Seluruh jemaat sepakat untuk merayakan perayaan itu tujuh hari lagi; sehingga selama tujuh hari berikutnya mereka merayakannya dengan penuh sukacita.Ada sukacita besar di Yerusalem, sejak jaman Salomo anak Daud, raja Israel, belum pernah ada lagi seperti ini yang dilakukan di Yerusalem. Para imam dan orang-orang Lewi berdiri memberkati umat, dan Allah mendengarkan mereka, karena doa-doa mereka sampai ke Sorga, tempat tinggal-Nya yang kudus.’ - 2 Tawarikh 29-30
Hal yang sama terjadi di jaman Yosia, ‘Yosia melakukan apa yang benar di mata Tuhan, Pada tahun ke-18 pemerintahannya, sementara memperbaiki bait, mereka menemukan gulungan TORAH di bait.Ketika raja mendengarkan apa yang dituliskan di gulngan Torah itu, dikoyakkanlah pakaiannya. Dia pergi ke bait dengan seluruh orangnya. Dia mendengarkan setiap apa yang dibacakan dalam Kovenan itu. Kemudian setiap orang memberikan dirinya terikat dengan kovenan itu.Raja memerintahkan mereka untuk menyingkirkan semua perkakas berhala yang dibuat untuk Baal dan Asera yang ada di bait dan juga untuk tentara langit.Dia mengusir para pelacur bakti yang ada di bait … Raja memberikan penrintah ini ke semua orang, ‘Rayakan Paskah kepada Tuhan Allahmu, seperti yang tertulis di gulungan Kovenan itu.’ Di tahun ke-18 pemerintahan Raja Yosia, Paskah ini dirayakan bagi Tuhan di Yerusalem, yang tidak pernah dilakukan lagi sejak jaman hakim-hakim memimpin Israel, maupun selama pemerintahan raja-raja Israel dan raja-raja Yehuda.’ - 2 Raja 22-23
Kita melihat suatu pola yang alkitabiah! Dalam kedua kisah ini umat Tuhan telah melenceng jauh dari Tuhan dan kembali kepada penyembahan berhala, sehingga berkat Tuhan hilang. Mereka berbalik kepada Tuhan dan mencari Dia, dan hal pertama yang dilakukan Tuhan ialah memulihkan Paskah! Pada saat mereka berbalik dari penyembahan berhala kepada perayaan Paskah, hubungan mereka dengan Tuhan dipulihkan dan mengalami sukacita besar dan berkat! Itu adalah pola yang luar biasa. Di dalam Alkitab kita temukan berulang kali bahwa perayaan Paskah seringkali HILANG. Bahkan selama masa Perjanjian Lama dan di antara orang Yahudi sendiri, seringkali berbagai generasi hidup dan mati tanpa merayakan Paskah. Mengapa perayaan Paskah itu hilang? Setan telah MENCURINYA. Setan selalu ingin mencuri Paskah. Lalu ketika suatu generasi berbalik kepada Tuhan dan mulai membaca Alkitab … mereka membaca tentang Paskah untuk pertamakali. Kelihatannya merupakan sesuatu yang aneh bagi mereka. Mereka berkata, “Kita tidak pernah melakukan hal ini.” (Itulah tepatnya yang kita lihat di dalam gereja hari ini!) Tetapi ketika Roh Kudus bergerak dalam hati mereka, mereka memperingati perayaan penebusan Tuhan, dan sukacita serta kuasa Tuhan pun dipulihkan.
Mengapa Setan Membenci Paskah?
Setan membenci Paskah karena Paskah adalah perayaan YESUS. Ketika gereja melepaskan Paskah, sesungguhnya gerejaa memunculkan perayaan-perayaan lain untuk Yesus. Beginilah cara kita menggeser waktu perayaan itu menjadi Natal dan Paskah (Easter). Memang tidak buruk kalau kita merayakan Yesus pada hari-hari itu (Perayaan untuk Yesus selalu baik). Tetapi perayaan Yesus yang diberikan oleh Tuhan kepada kita disebut Passover.
Kitab Perjanjian Baru mengatakan bahwa Yesus adalah Anak Domba Paskah! Ketika Yohanes memperkenalkan Yesus, dia berkata “Lihatlah Anak Domba Allah!” Paulus berkata: Kristus, Anak Domba Paskah kita telah disembelih! Merayakan Paskah adalah merayakan Yesus. Sebagai Anak Domba Paskah, Dia mencurahkan darahNya untuk menebus kita dari cengkeraman musuh. Ketika darahNya dioleskan di pintu kehidupanmu, Tuhan melepaskanmu dari tangan si pemusnah! Jadi kalau kita mengerti Paskah, kita akan mengerti apa yang telah dilakukan Yesus bagi kita.
Pada malam Paskah yang pertama, segala sesuatu menunjuk kepada Yesus. Setiap ayah diperintahkan untuk berdiri di pintu rumahnya dengan tempayan berisi darah anak domba. Dia harus mencelup hisop ke dalam darah dan mengoleskan pada kedua tiang pintu rumah … dan dia harus mengulang mencelup hisop ke dalam darah dan mengoleskannya di ambang pintu rumah. Jika engkau membayangkan gerakan yang dia lakukan dengan hisopnya yang tercelup darah, maka engkau akan melihat dia membuat suatu tanda salib.
Pada malam Paskah itu setiap ayah Yahudi membuat tanda salib dengan darah anak domba. Akibatnya, seluruh keluarga menerima penebusan dari kuasa musuh. Kelepasan yang dilakukan Tuhan selalu disertai dengan darah dan salibNya. Itulah yang dirayakan Paskah! Bukanlah suatu kebetulan kalau Yesus mati pada hari Paskah. Tuhan bisa mengatur kematianNya kapan saja. Tetapi memang kehendakNya jika Yesus mati pada saat Paskah, sehingga kita bisa mengenali bahwa Dia adalah Anak Domba Paskah.
Perayaan Paskah merupakan perayaan yang sangat penting sehingga Tuhan memilih waktu itu sebagai waktu terjadinya suatu kejadian paling dahsyat dalam sejarah (kematian dan kebangkitan Yesus). Tuhan sengaja MENGHUBUNGKAN pengorbanan Yesus dengan Paskah. Ini merupakan hal yang menarik: Konstantin berusaha memisahkan pekerjaan Yesus dari Paskah … tetapi Tuhan berusaha menghubungkan Yesus dengan Paskah. Tuhan ingin agar kita berpikir tentang Yesus ketika merayakan Paskah.
Aturan Paskah
Menarik sekali jika kita bandingkan urutan perayaan Paskah dengan urutan kejadian penyaliban Yesus. Menurut kitab Torah, pada saat Paskah ada hal-hal khusus yang harus dilakukan pada saat yang ditetapkan.
1. Anak Domba Paskah harus dipilih pada hari yang ditetapkan. Keluaran 12 menjelaskan bahwa anak domba Paskah harus dipilih pada hari ke sepuluh dari bulan pertama. Pada jaman Yesus, hanya anak-anak domba dari Bethlehem yang dianggap layak untuk menjadi anak domba Paskah. Jadi anak domba yang lahir di Betlehem dipilih dan dibawa masuk Yerusalem dari timur (bukit Zaitun) melalui gerbang domba. Pada hari ke sepuluh dari bulan pertama, Yesus – Anak Domba yang lahir di Betlehem turun dari bukit Zaitun memasuki Yerusalem melalui gerbang domba. (Ini disebut “kedatanganNya yang penuh kemenangan”) Ketika Dia masuk, orang-orang melambaikan daun palem sambil berseru, “Diberkatilah dia yang datang dalam nama Tuhan! Selamatkan kami, Anak Daud!” Dengan suara bulat Yesus dinyatakan sebagai Mesias! Rakyat telah memilih Anak Domba Paskah mereka.
2. Anak Domba itu harus diperiksa. Kitab Torah mengajarkan ketika domba itu telah dipilih, dia harus diperiksa dengan teliti apakah ada cacat-celanya. Hanya anak domba yang sempurna, tidak bercacat-cela yang layak dipersembahkan bagi Paskah. Setelah tiba di Yerusalem, Yesus masuk ke Bait Suci untuk mengajar. Ketika berada di tempat itu Dia didekati oleh kaum Farisi dan Saduki, pengikut Herodes, dan para ahli taurat. Setiap kelompok mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sulit untuk menjebak Dia. Pada dasarnya mereka mencari cacat cela yang bisa mendiskualifikasiNya sebagai Mesias. Tetapi tidak seorang pun mendapati kekurangan pada Dia, karena Dia memang tidak bercacat-cela.
3. Ragi itu harus disingkirkan. Kitab Torah mengajar bahwa sebelum merayakan Paskah semua ragi (ketidakmurnian) harus disingkirkan dari setiap rumah. Setiap ibu mengambil lilin, memeriksa apakah ada ketidakmurnian, dan menyingkirkannya dari rumah. Perintah ini masih dilakukan sampai sekarang. Paskah adalah saat untuk membersihkan setiap rumah. Setiap keluarga Yahudi yang taat akan memeriksa dan membersihkan rumahnya sebelum Paskah. Setiap ketidakmurnian harus disingkirkan. Setelah Yesus sampai di Yerusalem, Dia memasuki Bait Suci dan menyingkirkan meja-meja penukar uang. Dia mengikuti perintah alkitabiah untuk membersihkan Rumah BapaNya sebelum Paskah.
4. Anak Domba itu dibawa ke altar untuk dipamerkan. Pada pagi hari ke 14 bulan pertama, ketika semua telah disiapkan, anak domba itu dibawa keluar menuju altar. Pada jam 9 pagi itu, anak domba tersebut diikat di altar untuk dipertontonkan pada orang banyak. Pada pagi hari ke 14 dari bulan pertama, ketika semua telah siap, Yesus dibawa keluar menuju Kalvari. Pada jam 9 pagi itu, sama seperti anak domba untuk Paskah diikat di altar … Yesus dipaku di kayu salib untuk dipertontonkan di Kalvari!
5. Anak Domba itu disembelih pada waktu yang ditetapkan. Tepat jam 3 siang, imam besar turun ke altar. Ketika seorang imam lainnya meniup terompet di dinding Bait Suci, imam besar memotong leher anak domba korban dan berkata, “SUDAH SELESAI”. Pada jam 3 siang hari yang kudus itu, ketika anak domba Paskah dibunuh, Yesus berteriak dengan suara keras “SUDAH SELESAI” dan menyerahkan rohNya. Dalam bahasa Yunani, “sudah selesai” adalah tetelistai, yang berarti “utang sudah dibayar lunas”.
Perayaan Yesus
Anda lihat bagaimana Tuhan menetapkan untuk menghubungkan Yesus dengan Paskah? Tidak heran jika Yohanes Pembaptis memperkenalkan Dia dengan “Lihatlah Anak Domba Allah”. Tidak heran jika Paulus berkata, “Kristus, Anak Domba kita yang sudah disembelih”. Paskah adalah tentang Yesus.
• Dia telah datang sebagai Anak Domba Allah
• DarahNya telah menebus KITA
• Dengan darahNya … penghakiman dibalik
• Dengan darahNya … kuasa musuh dihancurkan
• Dengan darahNya … kita dilepaskan dari ikatan dan tekanan
• Dengan darahNya … kita dilepaskan untuk memasuki perjanjian Tuhan.
Paskah Adalah Perayaan YESUS
Semakin engkau mengerti Paskah, semakin engkau menghargai Yesus. Kalau engkau tidak mengerti Paskah, engkau akan kesulitan untuk benar-benar mengerti apa yang telah dilakukan Yesus. Ketika engkau merayakan Paskah, engkau menyatakan imanmu atas kuasa darahNya dan penebusanNya. Karena itu salah satu hal paling aneh di dunia adalah bahwa orang-orang Kristen di dunia mau menerima kebohongan setan yang mengatakan bahwa Paskah (passover) tidak ada kaitannya dengan “kekristenan”. Setan berusaha mencuri passover ini karena dia tahu bahwa perayaan atas darah akan melepaskan kuasa! Ketika perayaan paskah (passover) itu dicuri, kuasa itu tidak ada. Tetapi ketika passover dipulihkan … kuasa itu KEMBALI!
Kabar baiknya adalah … Tuhan sedang MEMULIHKAN Paskah!
Di seluruh dunia, gereja-gereja merayakan Paskah kembali. Dan KUASA itupun kembali. Kami mengundang Saudara untuk merayakan kuasa darah Yesus. Kami mengundang Saudara untuk bersama-sama orang Kristen lain di seluruh dunia mengalami pemulihan Paskah. Mari bersama-sama kami menyatakan: Kami DITEBUS oleh DARAH ANAK DOMBA dari tangan musuh!
Chuck D. Pierce & Robert Heidler
Dalam kitab Keluaran 12:13-14 disebutkan, Dan darah itu menjadi tanda bagimu pada rumah-rumah di mana kamu tinggal: Apabila Aku melihat darah itu, maka Aku akan lewat dari pada kamu. Jadi tidak akan ada tulah kemusnahan di tengah-tengah kamu, apabila Aku menghukum tanah Mesir…Hari ini akan menjadi hari peringatan bagimu. Kamu harus merayakannya sebagai hari raya bagi TUHAN turun-temurun. Kamu harus merayakannya sebagai ketetapan untuk selamanya.
Saat kita sedang menantikan hari raya Paskah, kita perlu ingat bahwa Paskah merupakan suatu perayaan yang diciptakan oleh Tuhan. Perayaan ini diberikan untuk meningkatkan iman kita dan mempersiapkan kita menerima kepenuhan berkatNya. Dalam kitab Perjanjian Lama, Paskah diperintahkan oleh Tuhan untuk mengajar bangsa Israel pentingnya penebusan melalui darah. Dalam kitab Perjanjian Baru, Paskah juga dilakukan oleh orang-orang Kristen untuk memperingati dan mengerti pekerjaan penebusan yang telah dilakukan oleh Tuhan. Alkitab menyebutkan bahwa Paskah harus dirayakan sebagai ketetapan untuk selamanya!
Banyak orang Kristen tidak menyadari bahwa Paskah sama pentingnya baik dalam Perjanjian Baru maupun Perjanjian Lama. Perayaan ini kita temukan di setiap bagian dari Perjanjian Baru. Yesus dan para murid merayakan Paskah. Perjamuan Tuhan yang terakhir adalah perayaan Paskah. Para rasul mengajar jemaat-jemaat bukan Yahudi tentang perayaan Paskah. Dalam kitab 1 Korintus Paulus menulis kepada sebuah jemaat besar bukan Yahudi , “Kristus, Anak Domba Paskah KITA, telah disembelih, karena itu mari kita merayakannya!” Selama ratusan tahun Paskah telah menjadi perayaan penting bagi gereja mula-mula.
Mengapa Paskah Begitu Penting?
Derek Prince pernah berkata bahwa deklarasi iman yang paling kuat adalah, “Aku telah ditebus dengan darah Anak Domba dari tangan musuh.” Dia berkata bahwa jika kita menyatakan deklarasi itu dengan iman yang teguh, dan terus melakukannya, maka akan terjadi sesuatu. Kita akan dilepaskan dari tangan musuh! Itulah sebenarnya pesan dari Paskah. Perayaan Paskah adalah deklarasi iman bahwa kita telah ditebus oleh darah Anak Domba! Ada sesuatu yang terjadi ketika kita merayakan Paskah. Ketika kita bersama-sama memperingati pekerjaan besar yang telah Tuhan lakukan, dan menyatakan kuasa penebusan itu dalam hidup kita sekarang ini, akan SELALU menghasilkan sesuatu.
Paskah itu sangat penting bagi Tuhan. Tetapi setan membenci Paskah! Musuh kita telah bekerja dengan rajin untuk mencuri Paskah. Tetapi ada kabar baik, yaitu: Tuhan sedang memulihkan Paskah! Tetapi itu merupakan suatu pertempuran! Pertempuran atas darah. Setan ingin memberi kita agama tanpa darah, karena agama tanpa darah tidak punya kuasa. Kuasa itu ada di dalam darah!
Selalu ada pertempuran untuk Paskah. Kita bisa melihatnya dalam sejarah gereja. Dalam abad ke 4, ketika kaisar Konstantin berusaha untuk menggabungkan kekristenan dengan paganisme, hal itu kedengaran seperti sesuatu yang baik. Dia melegalisasi kekristenan. Orang bisa ke gereja tanpa takut dilempar ke kandang singa.
Dan Konstantin tidak perduli kalau orang Kristen merayakan kebangkitan Yesus. Tetapi dia tidak ingin ada hal yang berkaitan dengan Paskah. Dia minta agar orang-orang Kristen tidak merayakan kebangkitan itu pada waktu Paskah. Pada pertemuan Council of Nicea (AD325) dia berkata, “Ketidak beresan ini (perayaan Paskah) HARUS dibetulkan!”
Pada pertemuan tersebut Konstantin menghapuskan Paskah dan memberi arahan bahwa kematian dan kebangkitan Kristus dirayakan pada “hari Minggu setelah bulan penuh pertama yaitu ketika matahari di atas katulistiwa … waktu yang dikaitkan dengan perayaan musim semi para penyembah berhala dewi kesuburan bernama Ishtar … juga dikenal sebagai Eastre! (Karena itu sekarang gereja merayakan kebangkitan pada waktu Easter, bukan pada saat Paskah). Tujuan Konstantin adalah untuk menyingkirkan Yesus dari konteks Paskah.
Pertempuran Berlanjut
Banyak gereja yang menolak perintah Konstantin, sehingga selama beberapa abad setelah masa Konstantin pertempuran untuk Paskah terus berlanjut. Pada abad keenam, misalnya, Kaisar Justinian mengirim pasukan Romawi ke seluruh wilayah kekaisaran untuk memberlakukan larangan merayakan Paskah. Dalam usaha ini, ribuan pria, wanita dan anak-anak dibunuh! Bahkan ada kota-kota yang mengalami pembunuhan masal untuk menghentikan perayaan Paskah. (Pertempuran untuk Paskah telah membawa banyak korban) Dengan tekanan pemerintah, gereja Roma juga ikut menyingkirkan Paskah. Perhatikan beberapa pernyataan yang dikeluarkan oleh dewan (council) berikut.
Kutukan Dinyatakan
The Council of Antioch (AD 345) menyatakan, “Apabila ada uskup presbiterian atau diaken, setelah pernyataan ini, berani merayakan Paskah, Dewan akan menghakimi mereka sebagai terkutuk dari gereja. Dewan bukan hanya memecat mereka dari pelayanan, tetapi juga pihak-pihak lain yang berani berkomunikasi dengan mereka.” (Gereja sebenarnya mengutuki mereka yang merayakan Paskah).
The Council of Laodicea (AD 365) “Tidak diperbolehkan melakukan perayaan oleh orang-orang Yahudi”.
The Council of Agde, Perancis (506) “Orang Kristen TIDAK BOLEH ambil bagian dalam perayaan orang Yahudi.”
The Council of Toledo X (abad 7) “Easter harus dirayakan sesuai dengan deklarasi yang ditetapkan di Nicea.”
Pertempuran Atas Paskah Terlihat Jelas Selama Sejarah Gereja!
Pertempuran untuk melenyapkan Paskah bukanlah hal yang baru. Kita melihat hal yang sama terjadi dalam Alkitab. Setan selalu berusaha mencuri Paskah karena dia tahu bahwa perayaan darah itu akan melepaskan suatu kuasa! Lihat apa yang terjadi dalam jaman Hizkia, ‘Ia melakukan apa yang benar di mata TUHAN. Ia membuka pintu-pintu rumah TUHAN dan memperbaikinya, menyingkirkan mezbah-mezbah palsu, memulihkan korban persembahan dan puji-pujian Daud. Kemudian Hizkia mengirim pesan ke seluruh Israel dan Yehuda, mengundang mereka datang merayakan Paskah. Para pembawa pesan pergi ke seluruh Israel dan Yehuda: ‘Hai, orang Israel,kembalilah kepada Tuhan.’ Tangan Allah bekerja sehingga mereka bersatu dalam pikiran untuk memenuhi undangan raja. Robongan yang sangat besar berkumpul di Yerusalem untuk mereyakan Perayaan. Mereka menyembelih anak-domba Paskah dan mereyakan Perayaan selama tujuh hari dengan penuh sukacita, sementara setiap hari orang-orang Lewi menaikkan nyanyian kepada Tuhan, disertaui bunyi-bunyian pujian. Seluruh jemaat sepakat untuk merayakan perayaan itu tujuh hari lagi; sehingga selama tujuh hari berikutnya mereka merayakannya dengan penuh sukacita.Ada sukacita besar di Yerusalem, sejak jaman Salomo anak Daud, raja Israel, belum pernah ada lagi seperti ini yang dilakukan di Yerusalem. Para imam dan orang-orang Lewi berdiri memberkati umat, dan Allah mendengarkan mereka, karena doa-doa mereka sampai ke Sorga, tempat tinggal-Nya yang kudus.’ - 2 Tawarikh 29-30
Hal yang sama terjadi di jaman Yosia, ‘Yosia melakukan apa yang benar di mata Tuhan, Pada tahun ke-18 pemerintahannya, sementara memperbaiki bait, mereka menemukan gulungan TORAH di bait.Ketika raja mendengarkan apa yang dituliskan di gulngan Torah itu, dikoyakkanlah pakaiannya. Dia pergi ke bait dengan seluruh orangnya. Dia mendengarkan setiap apa yang dibacakan dalam Kovenan itu. Kemudian setiap orang memberikan dirinya terikat dengan kovenan itu.Raja memerintahkan mereka untuk menyingkirkan semua perkakas berhala yang dibuat untuk Baal dan Asera yang ada di bait dan juga untuk tentara langit.Dia mengusir para pelacur bakti yang ada di bait … Raja memberikan penrintah ini ke semua orang, ‘Rayakan Paskah kepada Tuhan Allahmu, seperti yang tertulis di gulungan Kovenan itu.’ Di tahun ke-18 pemerintahan Raja Yosia, Paskah ini dirayakan bagi Tuhan di Yerusalem, yang tidak pernah dilakukan lagi sejak jaman hakim-hakim memimpin Israel, maupun selama pemerintahan raja-raja Israel dan raja-raja Yehuda.’ - 2 Raja 22-23
Kita melihat suatu pola yang alkitabiah! Dalam kedua kisah ini umat Tuhan telah melenceng jauh dari Tuhan dan kembali kepada penyembahan berhala, sehingga berkat Tuhan hilang. Mereka berbalik kepada Tuhan dan mencari Dia, dan hal pertama yang dilakukan Tuhan ialah memulihkan Paskah! Pada saat mereka berbalik dari penyembahan berhala kepada perayaan Paskah, hubungan mereka dengan Tuhan dipulihkan dan mengalami sukacita besar dan berkat! Itu adalah pola yang luar biasa. Di dalam Alkitab kita temukan berulang kali bahwa perayaan Paskah seringkali HILANG. Bahkan selama masa Perjanjian Lama dan di antara orang Yahudi sendiri, seringkali berbagai generasi hidup dan mati tanpa merayakan Paskah. Mengapa perayaan Paskah itu hilang? Setan telah MENCURINYA. Setan selalu ingin mencuri Paskah. Lalu ketika suatu generasi berbalik kepada Tuhan dan mulai membaca Alkitab … mereka membaca tentang Paskah untuk pertamakali. Kelihatannya merupakan sesuatu yang aneh bagi mereka. Mereka berkata, “Kita tidak pernah melakukan hal ini.” (Itulah tepatnya yang kita lihat di dalam gereja hari ini!) Tetapi ketika Roh Kudus bergerak dalam hati mereka, mereka memperingati perayaan penebusan Tuhan, dan sukacita serta kuasa Tuhan pun dipulihkan.
Mengapa Setan Membenci Paskah?
Setan membenci Paskah karena Paskah adalah perayaan YESUS. Ketika gereja melepaskan Paskah, sesungguhnya gerejaa memunculkan perayaan-perayaan lain untuk Yesus. Beginilah cara kita menggeser waktu perayaan itu menjadi Natal dan Paskah (Easter). Memang tidak buruk kalau kita merayakan Yesus pada hari-hari itu (Perayaan untuk Yesus selalu baik). Tetapi perayaan Yesus yang diberikan oleh Tuhan kepada kita disebut Passover.
Kitab Perjanjian Baru mengatakan bahwa Yesus adalah Anak Domba Paskah! Ketika Yohanes memperkenalkan Yesus, dia berkata “Lihatlah Anak Domba Allah!” Paulus berkata: Kristus, Anak Domba Paskah kita telah disembelih! Merayakan Paskah adalah merayakan Yesus. Sebagai Anak Domba Paskah, Dia mencurahkan darahNya untuk menebus kita dari cengkeraman musuh. Ketika darahNya dioleskan di pintu kehidupanmu, Tuhan melepaskanmu dari tangan si pemusnah! Jadi kalau kita mengerti Paskah, kita akan mengerti apa yang telah dilakukan Yesus bagi kita.
Pada malam Paskah yang pertama, segala sesuatu menunjuk kepada Yesus. Setiap ayah diperintahkan untuk berdiri di pintu rumahnya dengan tempayan berisi darah anak domba. Dia harus mencelup hisop ke dalam darah dan mengoleskan pada kedua tiang pintu rumah … dan dia harus mengulang mencelup hisop ke dalam darah dan mengoleskannya di ambang pintu rumah. Jika engkau membayangkan gerakan yang dia lakukan dengan hisopnya yang tercelup darah, maka engkau akan melihat dia membuat suatu tanda salib.
Pada malam Paskah itu setiap ayah Yahudi membuat tanda salib dengan darah anak domba. Akibatnya, seluruh keluarga menerima penebusan dari kuasa musuh. Kelepasan yang dilakukan Tuhan selalu disertai dengan darah dan salibNya. Itulah yang dirayakan Paskah! Bukanlah suatu kebetulan kalau Yesus mati pada hari Paskah. Tuhan bisa mengatur kematianNya kapan saja. Tetapi memang kehendakNya jika Yesus mati pada saat Paskah, sehingga kita bisa mengenali bahwa Dia adalah Anak Domba Paskah.
Perayaan Paskah merupakan perayaan yang sangat penting sehingga Tuhan memilih waktu itu sebagai waktu terjadinya suatu kejadian paling dahsyat dalam sejarah (kematian dan kebangkitan Yesus). Tuhan sengaja MENGHUBUNGKAN pengorbanan Yesus dengan Paskah. Ini merupakan hal yang menarik: Konstantin berusaha memisahkan pekerjaan Yesus dari Paskah … tetapi Tuhan berusaha menghubungkan Yesus dengan Paskah. Tuhan ingin agar kita berpikir tentang Yesus ketika merayakan Paskah.
Aturan Paskah
Menarik sekali jika kita bandingkan urutan perayaan Paskah dengan urutan kejadian penyaliban Yesus. Menurut kitab Torah, pada saat Paskah ada hal-hal khusus yang harus dilakukan pada saat yang ditetapkan.
1. Anak Domba Paskah harus dipilih pada hari yang ditetapkan. Keluaran 12 menjelaskan bahwa anak domba Paskah harus dipilih pada hari ke sepuluh dari bulan pertama. Pada jaman Yesus, hanya anak-anak domba dari Bethlehem yang dianggap layak untuk menjadi anak domba Paskah. Jadi anak domba yang lahir di Betlehem dipilih dan dibawa masuk Yerusalem dari timur (bukit Zaitun) melalui gerbang domba. Pada hari ke sepuluh dari bulan pertama, Yesus – Anak Domba yang lahir di Betlehem turun dari bukit Zaitun memasuki Yerusalem melalui gerbang domba. (Ini disebut “kedatanganNya yang penuh kemenangan”) Ketika Dia masuk, orang-orang melambaikan daun palem sambil berseru, “Diberkatilah dia yang datang dalam nama Tuhan! Selamatkan kami, Anak Daud!” Dengan suara bulat Yesus dinyatakan sebagai Mesias! Rakyat telah memilih Anak Domba Paskah mereka.
2. Anak Domba itu harus diperiksa. Kitab Torah mengajarkan ketika domba itu telah dipilih, dia harus diperiksa dengan teliti apakah ada cacat-celanya. Hanya anak domba yang sempurna, tidak bercacat-cela yang layak dipersembahkan bagi Paskah. Setelah tiba di Yerusalem, Yesus masuk ke Bait Suci untuk mengajar. Ketika berada di tempat itu Dia didekati oleh kaum Farisi dan Saduki, pengikut Herodes, dan para ahli taurat. Setiap kelompok mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sulit untuk menjebak Dia. Pada dasarnya mereka mencari cacat cela yang bisa mendiskualifikasiNya sebagai Mesias. Tetapi tidak seorang pun mendapati kekurangan pada Dia, karena Dia memang tidak bercacat-cela.
3. Ragi itu harus disingkirkan. Kitab Torah mengajar bahwa sebelum merayakan Paskah semua ragi (ketidakmurnian) harus disingkirkan dari setiap rumah. Setiap ibu mengambil lilin, memeriksa apakah ada ketidakmurnian, dan menyingkirkannya dari rumah. Perintah ini masih dilakukan sampai sekarang. Paskah adalah saat untuk membersihkan setiap rumah. Setiap keluarga Yahudi yang taat akan memeriksa dan membersihkan rumahnya sebelum Paskah. Setiap ketidakmurnian harus disingkirkan. Setelah Yesus sampai di Yerusalem, Dia memasuki Bait Suci dan menyingkirkan meja-meja penukar uang. Dia mengikuti perintah alkitabiah untuk membersihkan Rumah BapaNya sebelum Paskah.
4. Anak Domba itu dibawa ke altar untuk dipamerkan. Pada pagi hari ke 14 bulan pertama, ketika semua telah disiapkan, anak domba itu dibawa keluar menuju altar. Pada jam 9 pagi itu, anak domba tersebut diikat di altar untuk dipertontonkan pada orang banyak. Pada pagi hari ke 14 dari bulan pertama, ketika semua telah siap, Yesus dibawa keluar menuju Kalvari. Pada jam 9 pagi itu, sama seperti anak domba untuk Paskah diikat di altar … Yesus dipaku di kayu salib untuk dipertontonkan di Kalvari!
5. Anak Domba itu disembelih pada waktu yang ditetapkan. Tepat jam 3 siang, imam besar turun ke altar. Ketika seorang imam lainnya meniup terompet di dinding Bait Suci, imam besar memotong leher anak domba korban dan berkata, “SUDAH SELESAI”. Pada jam 3 siang hari yang kudus itu, ketika anak domba Paskah dibunuh, Yesus berteriak dengan suara keras “SUDAH SELESAI” dan menyerahkan rohNya. Dalam bahasa Yunani, “sudah selesai” adalah tetelistai, yang berarti “utang sudah dibayar lunas”.
Perayaan Yesus
Anda lihat bagaimana Tuhan menetapkan untuk menghubungkan Yesus dengan Paskah? Tidak heran jika Yohanes Pembaptis memperkenalkan Dia dengan “Lihatlah Anak Domba Allah”. Tidak heran jika Paulus berkata, “Kristus, Anak Domba kita yang sudah disembelih”. Paskah adalah tentang Yesus.
• Dia telah datang sebagai Anak Domba Allah
• DarahNya telah menebus KITA
• Dengan darahNya … penghakiman dibalik
• Dengan darahNya … kuasa musuh dihancurkan
• Dengan darahNya … kita dilepaskan dari ikatan dan tekanan
• Dengan darahNya … kita dilepaskan untuk memasuki perjanjian Tuhan.
Paskah Adalah Perayaan YESUS
Semakin engkau mengerti Paskah, semakin engkau menghargai Yesus. Kalau engkau tidak mengerti Paskah, engkau akan kesulitan untuk benar-benar mengerti apa yang telah dilakukan Yesus. Ketika engkau merayakan Paskah, engkau menyatakan imanmu atas kuasa darahNya dan penebusanNya. Karena itu salah satu hal paling aneh di dunia adalah bahwa orang-orang Kristen di dunia mau menerima kebohongan setan yang mengatakan bahwa Paskah (passover) tidak ada kaitannya dengan “kekristenan”. Setan berusaha mencuri passover ini karena dia tahu bahwa perayaan atas darah akan melepaskan kuasa! Ketika perayaan paskah (passover) itu dicuri, kuasa itu tidak ada. Tetapi ketika passover dipulihkan … kuasa itu KEMBALI!
Kabar baiknya adalah … Tuhan sedang MEMULIHKAN Paskah!
Di seluruh dunia, gereja-gereja merayakan Paskah kembali. Dan KUASA itupun kembali. Kami mengundang Saudara untuk merayakan kuasa darah Yesus. Kami mengundang Saudara untuk bersama-sama orang Kristen lain di seluruh dunia mengalami pemulihan Paskah. Mari bersama-sama kami menyatakan: Kami DITEBUS oleh DARAH ANAK DOMBA dari tangan musuh!
Disadur bebas oleh Iskak Hutomo
Jumat, 26 Maret 2010
CH-011 Mengapa Gereja Besar Tidak Berumbuh
Mengapa Gereja Besar Tidak Tumbuh-----Home---Artikel
(Dan Reiland)
Gereja Redemption di Windsor, Oregon, selama tigabelas tahun pengunjungnya terus bertumbuh menjadi 1400, termasuk anak-anak. Gedungnya yang berkapasitas 400 tempat duduk agak sedikit mengalami kesulitan untuk mengatur pengunjung dan perparkiran. Jumlah kebaktian yang berlangsung selama satu jam ditambah dari 2 menjadi 3 kebaktian pada hari Minggu, dan 1 kebaktian lagi di hari Sabtu malam. Sedang diadakan persiapan apakah harus diadakan kebaktian kedua pada hari Sabtu atau kebaktian keempat pada hari Minggu, atau kedua-duanya. Kalau ini berhasil maka pengaturan tempat tidak menjadi masalah lagi, sampai jika pengunjung melebihi 2000 orang. Gereja punya pelayanan masyarakat yang kuat, dan arus pengunjung tetap. Tetapi selama satu tahun tidak bertumbuh lagi! Anggota majelis mengira ini berkaitan dengan keadaan ekonomi, tetapi gembala percaya walaupun perekonomian bisa mempengaruhi penghasilan jemaat tetapi tidak seharusnya mencegah pertumbuhan. Tidak ada alasan jelas mengapa gereja berhenti bertumbuh.
Gereja Baptist-2 di Norman, Virginia, punya rata-rata pengunjung sedikit di atas 3,000 selama tiga tahun. Pada mulanya gereja cepat melonjak dan ini dianggap sebagai penanaman gereja yang berhasil. Gereja Baptist-1, sebagai gereja induk, saat membuka gereja Baptis-2 memberi staff, uang, dan bangunan besar bekas mall yang direnovasi. Gedungnya secara formal merupakan toko grosir di jalur lalu-lintas di wilayah tersebut. Mall lain di wilayah yang sama masih sukses beroperasi dengan setiap harinya dipenuhi oleh pembeli. Parkirnya luas dan mulai direnovasi karena sudah berusia tujuh tahun. Staff gereja stabil, dan pengelolaan gereja berjalan seperti biasa. Kebaktian penyembahan luar-biasa, dan pelayanan anak-anaknya kuat. Kelompok kecilnya di atas rata-rata. Gereja punya warung kopi kecil dengan lingkungan yang bersahabat. Gembala senior berfokus pada penginjilan. Sepertinya tidak ada alasan mengapa gereja ini berhenti bertumbuh.
Jadi, apa jawabnya? Bagaimana gereja-gereja yang besar tersebut kok sepertinya tidak bertumbuh lagi? Ini rumit, tetapi bukannya misteri yang tidak bisa dipecahkan. Dibutuhkan doa dan puasa. Dituntut ketekunan. Gereja-gereja ini bisa bertumbuh kembali. Jika gereja Anda seperti gereja Redeemption atau pun Batist-2, gereja Anda pun bisa tumbuh kembali. Ini tidak mudah, tetapi bisa dilakukan.
Berikut ini ada lima kemungkinan yang bisa dipertimbangkan. Daftarnya bisa diperpanjang, tetapi yang ini merupakan hal-hal penting untuk dibicarakan. Berbicaralah dengan jujur dan lihat apa yang bisa kita temukan.
• Apa mereka telah melupakan darimana gerejanya berasal?
Sebelum menjadi gereja besar semua gereja pasti dulunya mulai dari gereja kecil. Pada saat itu para pemimpin semuanya mengejar setiap makhluk yang bernafas yang berminat untuk datang ke gerejanya. Mereka juga mengejar orang-orang yang tidak berminat agar datang. Setiap orang dianggap penting! Para pemimpin terus mengejar orang-orang baru. Dengan penuh gairah mereka berkali-kali menelpon orang. Di saat itu keuangan minim, bahkan meminjam, dan staff yang ada tidak berpengalaman. Hal terbaik yang bisa ditawarkan saat itu hanya visi yang dipenuhi iman. Mereka menjadi orang-orang fanatik yang menawarkan visi dan janji!
Sekarang, setelah gereja besar, dimana-mana bisa melihat orang. Gereja kuat. Punya sumber daya dan dana. Pemimpin tidak punya waktu lagi untuk disibukkan oleh pertanyaan-pertanyaan maupun kepedulian-kepedulian orang. Jika ada yang pergi, mereka tidak terlalu memperdulikan karena ada duapuluh orang lain yang sedang antri. Sukses yang tercampur dengan tekanan bisa mengubah pandangan kita ke arah yang salah. Kita telah melupakan darimana asal kita.
Memang pelayanan di gereja besar tidak sama dengan pelayanan di gereja kecil, tetapi hati dan gairah kita harus tidak berubah. Kerendahan hati, semangat, dan roh yang ramah untuk melayani itu sesuatu yang vital yang harus terus ditumbuhkan. Mengucap syukur dan bergantung kepada Allah merupakan sesuatu yang kritis yang harus ada agar gereja terus bertumbuh. Jika hal ini mulai berkurang, ambil waktu untuk mereflesikan-diri akan kerendahan hati yang pernah ada sewaktu gereja masih kecil. Bisa jadi ada sesuatu dalam diri kita yang butuh dibebaskan, yang bisa membuka kunci untuk gereja kita bisa bertumbuh kembali.
• Apa ada inovasi baru yang bisa melahirkan keluar-biasaan?
Melakukan sesuatu untuk memperoleh hal yang luar-biasa itu bagus, tetapi tidak bagus lagi jika usaha tersebut menyedot semua enersi kita. Keluar-biasaan itu penting tetapi jika membelenggu inovasi akan menjadi masalah. Inovasi itu di suatu saat sepertinya sebagai penghambat-intuisi keluar-biasaan. Pada mulanya inovasi seperti mengacaukan keadaan, karena menuntut adanya perubahan. Pada awalnya suatu inovasi itu tidak selalu bekerja dengan baik. Tetapi inovasi itu penting. Inovasi menjaga agar gereja hidup, sehat, dan bertumbuh.
Jadi inovasi apa yang dibutuhkan gereja kita saat ini? Apa itu kebaktian penyembahan, pelayanan anak, atau strategi untuk misi dunia? Apa pelayanan sosial? Mungkin pengembangan kepemimpinan atau sistem pengelolaan? Selalu lakukan sesuatu untuk berinovasi.
• Apa kepemimpinan sudah menyimpang?
Percaya atau tidak, para pemimpin gereja besar bisa merasa bosan. Bosan bukan karena tidak banyak yang harus dikerjakan, tetapi karena mengerjakan hal yang sama terus-menerus selama bertahun-tahun. Kebosanan ini membuat potensi akan menyimpang karena ada kegiatan lain yang kelihatannya lebih menarik dan menantang. Walaupun kegiatan-kegiatan lain ini menarik, tetapi mungkin perlu di kesampingkan, sampai gereja bisa bertumbuh kembali.
Penyimpangan-penyimpangan bisa juga datang dalam bentuk tekanan. Keuangan merupakan sumber tekanan yang besar. Jika masalah keuangan gereja menjadi begitu menekan sehingga enersi para pemimpin terkuras oleh masalah itu, bisa dimengerti bagaimana mereka kehilangan pandangan akan visi gereja. Ini hal yang utama dalam penyimpangan. Para pemimpin dipaksa memperhatikan hal yang tidak utama lagi! Yang ditakutkan adalah para pemimpin bekerja begitu keras di tengah masalah sehingga mereka tidak menyadari kalau telah disimpangkan.
Penyimpangan-penyimpangan bisa datang dari beberapa hal seperti masalah pribadi, perpecahan, tidak fokus, strategi yang tidak jelas atau serangan spiritual. Bagaimana dengan gereja Anda, apa ada penyimpangan terhadap sasaran gereja?
• Apa ‘mesin’ telah menggantikan misi?
Di gereja 12Stone www.12Stone.com di mana saya menjadi team kepemimpinan, ‘misi mengalahkan mesin’ salah satu ‘mantra’ kami. Kalau pengunjung gereja sudah ada di angka antara 9,000 dan 10,000 memang sudah diperlukan pengelolaan (‘mesin’). Pengelolaan ini menuntut perhatian kita. ‘Mesin’ ini selalu minta lebih, tetapi tidak pernah memberi lebih. Kita mengerti gereja perlu teroraginisir, punya kebijakan, dan kerumitan komunikasi. Ini konsekwensi karena keberhasilan dalam penjangkauan jiwa. Tetapi kita tidak bisa menyerahkan gereja ke monster yang dinamakan ‘mesin’.
Misi harus selalu didahulukan. Mempekerjakan orang untuk misi, mengelola untuk misi, menginvestasi uang untuk misi. Sekali-sekali biarkan ‘mesin’nya menderita. Pastikan ‘mesin’ yang melayani kita, bukan kita yang melayani ‘mesin’. Misalnya, selalu pekerjakan orang untuk pertumbuhan dan bukan pemeliharaan. Pekerjakan staff untuk membantu menjangkau misi lebih daripada staf untuk memelihara yang sudah ada. Kita harus belajar hidup dengan tekanan. Memang gereja besar tanpa pengelolaan yang baik akan kacau, tetapi misi-lah yang pertama!
• Apa ketergantungan kepada Allah telah digantikan dengan merasa bisa mencukupkan-diri-sendiri?
Tidak ada seorang pemimpin pun yang melakukan ini, tetapi hal ini terjadi. Tidak pernah ada seorang gembala atau dewan atau pemimpin yang mau menempati posisi Allah, tetapi hal ini terjadi.
Ini merupakan proses yang aneh, tetapi mudah dipahami bagaimana bisa terjadi. Saat gereja masih kecil, kita percaya kepada Allah, karena memang tidak ada pilihan lain. Sumbernya kecil dan kita berkata, ‘Tolong kami Tuhan, karena saya tidak dapat melakukannya tanpa Engkau.’ Dan Tuhan yang menyediakan. Kemudian tiba saatnya uang berlebih, bahkan melimpah. Tekanan memang ada saat masih kecil, tetapi tekanan yang jauh lebih besar juga ada saat sumbernya semakin membesar. Ini benar karena semakin banyak yang dipertaruhkan. Oleh karena itu kita, atau siapa pun yang ada dalam kepemimpinan, mencoba untuk mengambil kedaulatan kepemimpinan Allah, karena kita tidak mau ambil resiko: apa Tuhan dapat terus mengelola dan memelihara apa yang sedang kita pertaruhkan? Kita mengerti ini perbuatan bodoh, tetapi dalam kepemimpinan sehari-hari, kita mencoba untuk membuatnya berhasil. Di atas kertas ini ‘kegilaan’, tetapi mungkin saja bagi para pemimpin untuk melakukan sesuatu yang sedikit ‘gila’.
Saya sendiri, saat begitu banyak yang harus saya lakukan, saya mencoba bekerja lebih banyak dan berdoa lebih sedikit. Ini juga hal yang sama. Gila! Dalam keadaan seperti ini Roh Allah mengingatkan saya untuk tetap setia dengan waktu doa saya dan tetap bergantung kepada Bapa. Pola ini selalu berhasil, merasa mampu tidak pernah berhasil.
Saya mendorong kalian untuk mempelajari kelima pertanyaan ini dan mulai mencermati di gereja kalian. Bicarakan dengan team kalian dan saya percaya bahwa kalian akan menemukan sesuatu yang bisa membantu gereja kalian untuk bertumbuh kembali. Jika gereja kalian bisa bertumbuh, pertanyaan-pertanyaan ini bisa sebagai obat pencegah dan membantu menjagai momentum pertumbuhan gereja Anda.
(Dan Reiland)
Gereja Redemption di Windsor, Oregon, selama tigabelas tahun pengunjungnya terus bertumbuh menjadi 1400, termasuk anak-anak. Gedungnya yang berkapasitas 400 tempat duduk agak sedikit mengalami kesulitan untuk mengatur pengunjung dan perparkiran. Jumlah kebaktian yang berlangsung selama satu jam ditambah dari 2 menjadi 3 kebaktian pada hari Minggu, dan 1 kebaktian lagi di hari Sabtu malam. Sedang diadakan persiapan apakah harus diadakan kebaktian kedua pada hari Sabtu atau kebaktian keempat pada hari Minggu, atau kedua-duanya. Kalau ini berhasil maka pengaturan tempat tidak menjadi masalah lagi, sampai jika pengunjung melebihi 2000 orang. Gereja punya pelayanan masyarakat yang kuat, dan arus pengunjung tetap. Tetapi selama satu tahun tidak bertumbuh lagi! Anggota majelis mengira ini berkaitan dengan keadaan ekonomi, tetapi gembala percaya walaupun perekonomian bisa mempengaruhi penghasilan jemaat tetapi tidak seharusnya mencegah pertumbuhan. Tidak ada alasan jelas mengapa gereja berhenti bertumbuh.
Gereja Baptist-2 di Norman, Virginia, punya rata-rata pengunjung sedikit di atas 3,000 selama tiga tahun. Pada mulanya gereja cepat melonjak dan ini dianggap sebagai penanaman gereja yang berhasil. Gereja Baptist-1, sebagai gereja induk, saat membuka gereja Baptis-2 memberi staff, uang, dan bangunan besar bekas mall yang direnovasi. Gedungnya secara formal merupakan toko grosir di jalur lalu-lintas di wilayah tersebut. Mall lain di wilayah yang sama masih sukses beroperasi dengan setiap harinya dipenuhi oleh pembeli. Parkirnya luas dan mulai direnovasi karena sudah berusia tujuh tahun. Staff gereja stabil, dan pengelolaan gereja berjalan seperti biasa. Kebaktian penyembahan luar-biasa, dan pelayanan anak-anaknya kuat. Kelompok kecilnya di atas rata-rata. Gereja punya warung kopi kecil dengan lingkungan yang bersahabat. Gembala senior berfokus pada penginjilan. Sepertinya tidak ada alasan mengapa gereja ini berhenti bertumbuh.
Jadi, apa jawabnya? Bagaimana gereja-gereja yang besar tersebut kok sepertinya tidak bertumbuh lagi? Ini rumit, tetapi bukannya misteri yang tidak bisa dipecahkan. Dibutuhkan doa dan puasa. Dituntut ketekunan. Gereja-gereja ini bisa bertumbuh kembali. Jika gereja Anda seperti gereja Redeemption atau pun Batist-2, gereja Anda pun bisa tumbuh kembali. Ini tidak mudah, tetapi bisa dilakukan.
Berikut ini ada lima kemungkinan yang bisa dipertimbangkan. Daftarnya bisa diperpanjang, tetapi yang ini merupakan hal-hal penting untuk dibicarakan. Berbicaralah dengan jujur dan lihat apa yang bisa kita temukan.
• Apa mereka telah melupakan darimana gerejanya berasal?
Sebelum menjadi gereja besar semua gereja pasti dulunya mulai dari gereja kecil. Pada saat itu para pemimpin semuanya mengejar setiap makhluk yang bernafas yang berminat untuk datang ke gerejanya. Mereka juga mengejar orang-orang yang tidak berminat agar datang. Setiap orang dianggap penting! Para pemimpin terus mengejar orang-orang baru. Dengan penuh gairah mereka berkali-kali menelpon orang. Di saat itu keuangan minim, bahkan meminjam, dan staff yang ada tidak berpengalaman. Hal terbaik yang bisa ditawarkan saat itu hanya visi yang dipenuhi iman. Mereka menjadi orang-orang fanatik yang menawarkan visi dan janji!
Sekarang, setelah gereja besar, dimana-mana bisa melihat orang. Gereja kuat. Punya sumber daya dan dana. Pemimpin tidak punya waktu lagi untuk disibukkan oleh pertanyaan-pertanyaan maupun kepedulian-kepedulian orang. Jika ada yang pergi, mereka tidak terlalu memperdulikan karena ada duapuluh orang lain yang sedang antri. Sukses yang tercampur dengan tekanan bisa mengubah pandangan kita ke arah yang salah. Kita telah melupakan darimana asal kita.
Memang pelayanan di gereja besar tidak sama dengan pelayanan di gereja kecil, tetapi hati dan gairah kita harus tidak berubah. Kerendahan hati, semangat, dan roh yang ramah untuk melayani itu sesuatu yang vital yang harus terus ditumbuhkan. Mengucap syukur dan bergantung kepada Allah merupakan sesuatu yang kritis yang harus ada agar gereja terus bertumbuh. Jika hal ini mulai berkurang, ambil waktu untuk mereflesikan-diri akan kerendahan hati yang pernah ada sewaktu gereja masih kecil. Bisa jadi ada sesuatu dalam diri kita yang butuh dibebaskan, yang bisa membuka kunci untuk gereja kita bisa bertumbuh kembali.
• Apa ada inovasi baru yang bisa melahirkan keluar-biasaan?
Melakukan sesuatu untuk memperoleh hal yang luar-biasa itu bagus, tetapi tidak bagus lagi jika usaha tersebut menyedot semua enersi kita. Keluar-biasaan itu penting tetapi jika membelenggu inovasi akan menjadi masalah. Inovasi itu di suatu saat sepertinya sebagai penghambat-intuisi keluar-biasaan. Pada mulanya inovasi seperti mengacaukan keadaan, karena menuntut adanya perubahan. Pada awalnya suatu inovasi itu tidak selalu bekerja dengan baik. Tetapi inovasi itu penting. Inovasi menjaga agar gereja hidup, sehat, dan bertumbuh.
Jadi inovasi apa yang dibutuhkan gereja kita saat ini? Apa itu kebaktian penyembahan, pelayanan anak, atau strategi untuk misi dunia? Apa pelayanan sosial? Mungkin pengembangan kepemimpinan atau sistem pengelolaan? Selalu lakukan sesuatu untuk berinovasi.
• Apa kepemimpinan sudah menyimpang?
Percaya atau tidak, para pemimpin gereja besar bisa merasa bosan. Bosan bukan karena tidak banyak yang harus dikerjakan, tetapi karena mengerjakan hal yang sama terus-menerus selama bertahun-tahun. Kebosanan ini membuat potensi akan menyimpang karena ada kegiatan lain yang kelihatannya lebih menarik dan menantang. Walaupun kegiatan-kegiatan lain ini menarik, tetapi mungkin perlu di kesampingkan, sampai gereja bisa bertumbuh kembali.
Penyimpangan-penyimpangan bisa juga datang dalam bentuk tekanan. Keuangan merupakan sumber tekanan yang besar. Jika masalah keuangan gereja menjadi begitu menekan sehingga enersi para pemimpin terkuras oleh masalah itu, bisa dimengerti bagaimana mereka kehilangan pandangan akan visi gereja. Ini hal yang utama dalam penyimpangan. Para pemimpin dipaksa memperhatikan hal yang tidak utama lagi! Yang ditakutkan adalah para pemimpin bekerja begitu keras di tengah masalah sehingga mereka tidak menyadari kalau telah disimpangkan.
Penyimpangan-penyimpangan bisa datang dari beberapa hal seperti masalah pribadi, perpecahan, tidak fokus, strategi yang tidak jelas atau serangan spiritual. Bagaimana dengan gereja Anda, apa ada penyimpangan terhadap sasaran gereja?
• Apa ‘mesin’ telah menggantikan misi?
Di gereja 12Stone www.12Stone.com di mana saya menjadi team kepemimpinan, ‘misi mengalahkan mesin’ salah satu ‘mantra’ kami. Kalau pengunjung gereja sudah ada di angka antara 9,000 dan 10,000 memang sudah diperlukan pengelolaan (‘mesin’). Pengelolaan ini menuntut perhatian kita. ‘Mesin’ ini selalu minta lebih, tetapi tidak pernah memberi lebih. Kita mengerti gereja perlu teroraginisir, punya kebijakan, dan kerumitan komunikasi. Ini konsekwensi karena keberhasilan dalam penjangkauan jiwa. Tetapi kita tidak bisa menyerahkan gereja ke monster yang dinamakan ‘mesin’.
Misi harus selalu didahulukan. Mempekerjakan orang untuk misi, mengelola untuk misi, menginvestasi uang untuk misi. Sekali-sekali biarkan ‘mesin’nya menderita. Pastikan ‘mesin’ yang melayani kita, bukan kita yang melayani ‘mesin’. Misalnya, selalu pekerjakan orang untuk pertumbuhan dan bukan pemeliharaan. Pekerjakan staff untuk membantu menjangkau misi lebih daripada staf untuk memelihara yang sudah ada. Kita harus belajar hidup dengan tekanan. Memang gereja besar tanpa pengelolaan yang baik akan kacau, tetapi misi-lah yang pertama!
• Apa ketergantungan kepada Allah telah digantikan dengan merasa bisa mencukupkan-diri-sendiri?
Tidak ada seorang pemimpin pun yang melakukan ini, tetapi hal ini terjadi. Tidak pernah ada seorang gembala atau dewan atau pemimpin yang mau menempati posisi Allah, tetapi hal ini terjadi.
Ini merupakan proses yang aneh, tetapi mudah dipahami bagaimana bisa terjadi. Saat gereja masih kecil, kita percaya kepada Allah, karena memang tidak ada pilihan lain. Sumbernya kecil dan kita berkata, ‘Tolong kami Tuhan, karena saya tidak dapat melakukannya tanpa Engkau.’ Dan Tuhan yang menyediakan. Kemudian tiba saatnya uang berlebih, bahkan melimpah. Tekanan memang ada saat masih kecil, tetapi tekanan yang jauh lebih besar juga ada saat sumbernya semakin membesar. Ini benar karena semakin banyak yang dipertaruhkan. Oleh karena itu kita, atau siapa pun yang ada dalam kepemimpinan, mencoba untuk mengambil kedaulatan kepemimpinan Allah, karena kita tidak mau ambil resiko: apa Tuhan dapat terus mengelola dan memelihara apa yang sedang kita pertaruhkan? Kita mengerti ini perbuatan bodoh, tetapi dalam kepemimpinan sehari-hari, kita mencoba untuk membuatnya berhasil. Di atas kertas ini ‘kegilaan’, tetapi mungkin saja bagi para pemimpin untuk melakukan sesuatu yang sedikit ‘gila’.
Saya sendiri, saat begitu banyak yang harus saya lakukan, saya mencoba bekerja lebih banyak dan berdoa lebih sedikit. Ini juga hal yang sama. Gila! Dalam keadaan seperti ini Roh Allah mengingatkan saya untuk tetap setia dengan waktu doa saya dan tetap bergantung kepada Bapa. Pola ini selalu berhasil, merasa mampu tidak pernah berhasil.
Saya mendorong kalian untuk mempelajari kelima pertanyaan ini dan mulai mencermati di gereja kalian. Bicarakan dengan team kalian dan saya percaya bahwa kalian akan menemukan sesuatu yang bisa membantu gereja kalian untuk bertumbuh kembali. Jika gereja kalian bisa bertumbuh, pertanyaan-pertanyaan ini bisa sebagai obat pencegah dan membantu menjagai momentum pertumbuhan gereja Anda.
Disadur bebas oleh Iskak Hutomo
Selasa, 23 Maret 2010
FF-023 Kejatuhan Yang Diperdalam
KEJATUHAN YANG DIPERDALAM-----Home---Artikel
Manusia itu menjawab: "Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan."
Kemudian berfirmanlah TUHAN Allah kepada perempuan itu: "Apakah yang telah kauperbuat ini?" Jawab perempuan itu: "Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan." – Kejadian 3:12-13
Yang pria mengatakan itu kesalahan perempuan. Yang perempuan mengatakan itu kesalahan ular. Karena Allah yang menaruh ular di taman maka sesungguhnya perempuan itu mengatakan bahwa yang salah adalah Allah sendiri. Sejak saat itulah manusia terus mencoba menyalahkan Allah atas masalah-masalahnya. Perbuatan ini hanya akan membuat manusia lebih bobrok lagi.
Ada tiga ketidak-wajaran yang disebabkan oleh kejatuhan manusia: 1) fokus pada diri-sendiri 2) menyembunyikan diri, dan 3) saling menyalahkan. Jika manusia mau berhenti di bagian manapun dari ketiga hal tersebut dan berbalik kepada Allah, kejatuhan sepertinya tidak tidak akan membuat kerusakan umat yang lebih parah lagi. Jika kita melakukan kesalahan, dan berhenti sebelum berkembang lebih lanjut, serta mau kembali kepada Allah, ini akan mencegah kita untuk tidak jatuh ke masalah yang lebih dalam lagi.
Demikian juga jika ada orang yang berdosa. Mereka biasanya mengikuti langkah-langkah yang sama. Pertama-tama mereka akan berfokus pada diri-sendiri, kemudian mencoba untuk bersembunyi, lalu mulai mencari kambing-hitam. Semakin dalam kerusakannya akan semakin sulit untuk bisa menolong keluar dari masalahnya. Presiden Clinton melakukan hal yang sama saat affairnya terungkap. Pada mulanya dia mencoba menyembunyikannya. Kemudian, saat semua jaringan televisi menyiarkannya ke seluruh bangsa, dia mencoba menyalahkan beberapa hal ke dewan khususnya. Kalau dalam kasus ini seluruh bangsa sepertinya tahu kekeliruan Presidennya, seberapa sering kita sendiri bisa mengenali apa yang ada dalam diri kita?
Tuhan tidak mengampuni alasan-alasan yang diberikan; Dia mengampuni dosa. Allah itu selalu siap memberi pengampunan jika kita bertobat. Bertobat itu mengaku bahwa memang itu kesalahan kita, dan kita yang sudah melakukan kesalahan itu. Dengan mencari-cari alasan, atau kambing-hitam, dan bukannya bertobat, sesungguhnya sedang membangun penghalang lebih jauh lagi antara kita dengan Allah, dan antara kita dengan orang lain. Dibutuhkan kerendahan hati untuk mengaku kita salah, dan Allah memberi anugerah-Nya untuk itu. Kerendahan-hati yang sejati itu merupakan pertobatan yang sejati.
Kita bisa saja menyalahkan orang lain atas kesalahan kita, atau lingkungan kita; tetapi dengan melakukan ini kita tidak akan pernah dibebaskan dari akibat kesalahan tersebut. Tidak akan pernah terjadi pertobatan yang sejati sampai kita mau menerima tanggungjawab atas perbuatan kita. Hanya pertobatan sejati yang memberikan pengampunan dan rekonsiliasi dengan Allah dan manusia.
Belakangan ini banyak filosofi dan psikologi yang diperkenalkan untuk mengalihkan kebejatan moral manusia ke hal-hal lain seperti lingkungan, bagaimana cara kita dibesarkan, dll. Memang benar kalau hal-hal tersebut itu punya pengaruh dan dampak berarti dalam membangun karakter kita, tetapi jalan keluar dari keruwetan ini bukan dengan menyalahkan orang lain, dll., tetapi mulai mengambil tanggungjawab pribadi atas masalah dan kegagalan kita.
Lingkungan itu bukan masalahnya. Tuhan telah menaruh manusia di lingkungan yang sempurna tetapi tokh masih jatuh dalam dosa. Jika lingkungan itu masalahnya, maka lingkunganlah yang akan Tuhan tebus, dan bukan manusia. Tetapi Tuhan memberi manusia otoritas atas lingkungannya. Saat manusia ditebus, manusia akan dan harus mampu berhubungan serta harus mengubahkan lingkungannya. Ini seperti pepatah yang mengatakan ‘tempatkan saja kuda di depan kereta’ maka kereta akan berjalan dengan sendirinya.
Secara praktisnya, kita harus selalu melihat masalah dengan situasi, atau lingkungan kita, dan mencari tahu apa yang salah dengan kita, dan yang perlu diubah. Karena tujuan Allah itu menebus dan memulihkan kita seutuhnya dari konsekwensi kejatuhan karena dosa, pertama sekali kita harus selalu mencari jawab atas permasalahan kita, dan apa yang perlu diubah dalam diri kita. Jawabnya bisa dirangkum dalam satu kata yaitu ‘kasih’. Seperti ditunjukkan di 1 Korintus 13:18, ‘Kasih tidak berkesudahan (bhs. Ing. Love never fails)’. Kasih selalu bisa ditemukan di setiap akar pemecahan masalah. Jika kita bisa lebih mengasihi, ini akan bisa mengubah hampir semua situasi yang sekarang ini kita pandang sebagai masalah.
Tuhan mengubah dunia dengan mengasihinya sampai rela untuk mati. Kita juga bisa mengubah dunia saat kita mulai mengasihi mereka yang ada di sekitar sedemikian rupa sampai kita rela menyerahkan hidup kita, dan keinginan-sendiri, demi mereka. Daripada menyalah-nyalahkan, mari kita mengakui dosa kita, mengambil tanggungjawab akan akibatnya, dan mencari anugerah Allah untuk mengasihi mereka yang ada di sekitar kita, dan bukannya menyalahkan mereka atas masalah kita. Jika kita mulai dengan cara ini untuk benar-benar mengasihi, paradise akan mulai kembali.
Manusia itu menjawab: "Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan."
Kemudian berfirmanlah TUHAN Allah kepada perempuan itu: "Apakah yang telah kauperbuat ini?" Jawab perempuan itu: "Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan." – Kejadian 3:12-13
Yang pria mengatakan itu kesalahan perempuan. Yang perempuan mengatakan itu kesalahan ular. Karena Allah yang menaruh ular di taman maka sesungguhnya perempuan itu mengatakan bahwa yang salah adalah Allah sendiri. Sejak saat itulah manusia terus mencoba menyalahkan Allah atas masalah-masalahnya. Perbuatan ini hanya akan membuat manusia lebih bobrok lagi.
Ada tiga ketidak-wajaran yang disebabkan oleh kejatuhan manusia: 1) fokus pada diri-sendiri 2) menyembunyikan diri, dan 3) saling menyalahkan. Jika manusia mau berhenti di bagian manapun dari ketiga hal tersebut dan berbalik kepada Allah, kejatuhan sepertinya tidak tidak akan membuat kerusakan umat yang lebih parah lagi. Jika kita melakukan kesalahan, dan berhenti sebelum berkembang lebih lanjut, serta mau kembali kepada Allah, ini akan mencegah kita untuk tidak jatuh ke masalah yang lebih dalam lagi.
Demikian juga jika ada orang yang berdosa. Mereka biasanya mengikuti langkah-langkah yang sama. Pertama-tama mereka akan berfokus pada diri-sendiri, kemudian mencoba untuk bersembunyi, lalu mulai mencari kambing-hitam. Semakin dalam kerusakannya akan semakin sulit untuk bisa menolong keluar dari masalahnya. Presiden Clinton melakukan hal yang sama saat affairnya terungkap. Pada mulanya dia mencoba menyembunyikannya. Kemudian, saat semua jaringan televisi menyiarkannya ke seluruh bangsa, dia mencoba menyalahkan beberapa hal ke dewan khususnya. Kalau dalam kasus ini seluruh bangsa sepertinya tahu kekeliruan Presidennya, seberapa sering kita sendiri bisa mengenali apa yang ada dalam diri kita?
Tuhan tidak mengampuni alasan-alasan yang diberikan; Dia mengampuni dosa. Allah itu selalu siap memberi pengampunan jika kita bertobat. Bertobat itu mengaku bahwa memang itu kesalahan kita, dan kita yang sudah melakukan kesalahan itu. Dengan mencari-cari alasan, atau kambing-hitam, dan bukannya bertobat, sesungguhnya sedang membangun penghalang lebih jauh lagi antara kita dengan Allah, dan antara kita dengan orang lain. Dibutuhkan kerendahan hati untuk mengaku kita salah, dan Allah memberi anugerah-Nya untuk itu. Kerendahan-hati yang sejati itu merupakan pertobatan yang sejati.
Kita bisa saja menyalahkan orang lain atas kesalahan kita, atau lingkungan kita; tetapi dengan melakukan ini kita tidak akan pernah dibebaskan dari akibat kesalahan tersebut. Tidak akan pernah terjadi pertobatan yang sejati sampai kita mau menerima tanggungjawab atas perbuatan kita. Hanya pertobatan sejati yang memberikan pengampunan dan rekonsiliasi dengan Allah dan manusia.
Belakangan ini banyak filosofi dan psikologi yang diperkenalkan untuk mengalihkan kebejatan moral manusia ke hal-hal lain seperti lingkungan, bagaimana cara kita dibesarkan, dll. Memang benar kalau hal-hal tersebut itu punya pengaruh dan dampak berarti dalam membangun karakter kita, tetapi jalan keluar dari keruwetan ini bukan dengan menyalahkan orang lain, dll., tetapi mulai mengambil tanggungjawab pribadi atas masalah dan kegagalan kita.
Lingkungan itu bukan masalahnya. Tuhan telah menaruh manusia di lingkungan yang sempurna tetapi tokh masih jatuh dalam dosa. Jika lingkungan itu masalahnya, maka lingkunganlah yang akan Tuhan tebus, dan bukan manusia. Tetapi Tuhan memberi manusia otoritas atas lingkungannya. Saat manusia ditebus, manusia akan dan harus mampu berhubungan serta harus mengubahkan lingkungannya. Ini seperti pepatah yang mengatakan ‘tempatkan saja kuda di depan kereta’ maka kereta akan berjalan dengan sendirinya.
Secara praktisnya, kita harus selalu melihat masalah dengan situasi, atau lingkungan kita, dan mencari tahu apa yang salah dengan kita, dan yang perlu diubah. Karena tujuan Allah itu menebus dan memulihkan kita seutuhnya dari konsekwensi kejatuhan karena dosa, pertama sekali kita harus selalu mencari jawab atas permasalahan kita, dan apa yang perlu diubah dalam diri kita. Jawabnya bisa dirangkum dalam satu kata yaitu ‘kasih’. Seperti ditunjukkan di 1 Korintus 13:18, ‘Kasih tidak berkesudahan (bhs. Ing. Love never fails)’. Kasih selalu bisa ditemukan di setiap akar pemecahan masalah. Jika kita bisa lebih mengasihi, ini akan bisa mengubah hampir semua situasi yang sekarang ini kita pandang sebagai masalah.
Tuhan mengubah dunia dengan mengasihinya sampai rela untuk mati. Kita juga bisa mengubah dunia saat kita mulai mengasihi mereka yang ada di sekitar sedemikian rupa sampai kita rela menyerahkan hidup kita, dan keinginan-sendiri, demi mereka. Daripada menyalah-nyalahkan, mari kita mengakui dosa kita, mengambil tanggungjawab akan akibatnya, dan mencari anugerah Allah untuk mengasihi mereka yang ada di sekitar kita, dan bukannya menyalahkan mereka atas masalah kita. Jika kita mulai dengan cara ini untuk benar-benar mengasihi, paradise akan mulai kembali.
Disadur bebas oleh Iskak Hutomo
Langganan:
Postingan (Atom)